Senin, 01 September 2008

Kaum Muda Harus Menyiapkan Diri

Isu atau wacana saatnya kaum muda berkiprah dalam pentas kepemimpinan nasional dan partai politik terus bergulir, terutama sejak peringatan sumpah pemuda pada Oktober lalu. Beberapa tokoh nasional bahkan regional pun meminta agar kaum muda diberikan kesempatan untuk menjadi pemimpin bangsa ini. Bagaimana pendapat Sutiyoso, salah satu tokoh regional yang kini mencalonkan diri sebagai kontentas pemilihan presiden di 2009 mendatang, tentang kaum muda yang berkeinginan merotasi kepemimpinan nasional. Berikut penuturan beliau kepada wartawan LPM INSTITUT Akhwani Subkhi, Selasa 22 Januari di Aula Student Center UIN Jakarta.

Apa komentar Anda mengenai kaum muda yang berkeinginan mengambil alih kepemimpinan nasional?
Setuju, memang harus kalau ada yang muda yang sudah siap majulah dia tapi, caranya harus demokrasi salah satunya adalah ikut kompetisi dia. Saya amat senang memang saat ini sudah ada yang siap. Andai kata belum ada, siapa pun yang menjadi pemimpin nanti harus menyiapkan kader yang saya katakan tadi pembantu-pembantunya harus sebagian anak muda yang potensial untuk diproyeksikan menjadi pemimpin nasional nantinya.

Apa yang harus dilakukan kaum muda agar dapat merebut kepemimpinan nasional?
Siapkan diri, itu tadi intelektualitas dan dia pernah belajar memimpin. Tidak bisa tiba-tiba memimpin negara yang sangat complicated ini.

Apakah Anda optimis kaum muda bisa menjadi pemimpin nasional?
Bisa, kalau dia siap. Karena itu siapkan diri dengan baik. Kalau dia tidak mempunyai modal yang cukup dalam arti modal yang tadi yaitu pengalaman maka orang tidak laku dan takut karena yang dipertaruhkan adalah 220 juta manusia.

Apa yang menjadi penghalang/ kendala bagi kaum muda dalam melakukan rotasi kepemimpinan nasional?
Ya, saat ini karena lewat partai politik, sedangkan partai politik masih nepotisme. Menurut saya tidak bisa merekrut kader-kader yang terbaik untuk nongol.

Menurut Anda apakah ada tokoh kaum muda yang sudah siap dan layak untuk menjadi pemimpin nasional di 2009?
Kalian yang bisa menilai bukan saya, masyarakat yang bisa menilai siapa yang paling layak gitukan. Jadi harus ditongolkan karena itu andai kata-andai kata lagi pun kalau saya jadi pun beberapa yang saya teropong potensial harus menjadi pembantu kita supaya dia menggantikan kita nanti. Pemimpin itu harus legowo tidak kepengen terus-terusan di situ.

Jumat, 16 Mei 2008

Menkominfo Berdialog dengan Mahasiswa UIN Jakarta

Penulis Akhwani Subkhi

Ruang Sidang Utama, UINJKT Online- Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Prof Dr Ir Muhammad Nuh, DEA berpesan agar mahasiswa memperkuat basis personalitity seperti intelektualitas, kemampuan teknis, dan integritas atau moralitas. Pesan tersebut disampaikan Muhammad Nuh ketika berdialog dengan beberapa perwakilan mahasiswa yang berasal dari organisasi intra dan ekstra kampus UIN Jakarta di Ruang Sidang Utama, pada Jumat (16/5) siang.

Dialog tersebut digelar seusai Menkominfo meletakan batu pertama pembangunan gedung National Information and Communication Technology Human Resources Develeopment (NICT-HRD) Center di kampus II UIN Jakarta. Peletakan batu pertama ini dihadiri pula Menteri Agama H Muhammad Maftuh Basyuni, SH, Presiden Korea Telecommunication Corporation (KTC) Kim Han-Suk, Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Mr Lee Sun-jin dan Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat.

Mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini mengaku bangga bisa bersilaturrahmi dengan mahasiswa UIN Jakarta. “Saya merasa bangga bisa silaturrahmi dengan kalian,” ungkapnya. Dalam kesempatan itu dia menyampaikan tiga hal sebagaimana yang biasa ia sampaikan ketika mempunyai kesempatan bertemu atau berdialog dengan mahasiswa di kampus.

Ada tiga hal yang biasa saya sampikan kepada mahasiswa pertama, memberi motivasi kepada mahasiswa bahwa masa depan ada di tangan anda semua. Kedua, mahasiswa mempunyai kejernihan dalam melihat permasalahan, baik lokal maupun nasional. Ketiga, untuk menjalin silaturrahmi dengan mahasiswa,” ucapnya.

Pada kesempatan itu mahasiswa bertanya berbagai hal kepada Menkominfo salah satunya adalah alasan pemerintah akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Menurut Nuh menaikkan harga BBM memang pilihan paling tidak enak, tapi ini tidak lain untuk menyelamatkan mata rantai yang paling bawah yaitu rakyat kecil.

“Pemerintah lebih memilih menyelamatkan rakyat daripada menyelamatkan karir atau popularitas politiknya,” jelas suami drg Layly Rahmawati ini. Dia menjelaskan bahwa 40 persen subsidi BBM banyak dinikmati kalangan menengah-atas. Bagi dia ini gila.

Dia menuturkan banyak cara untuk berkomunikasi dan menyampaikan aspirasi kepada pemerintah jika tidak setuju dengan kebijakan pemerintah salah satunya seperti lewat dialog atau pertemuan ini. Menurutnya dialog lebih efektif dalam menyampaikan aspirasi kepada pemerintah, dibandingkan lewat spanduk dan aksi demonstrasi yang bikin macet jalanan.

“Kalau punya ide atau gagasan sampaikan saja secara langsung kepada presiden melalui dialog atau surat. Dan kami sangat welcome untuk dialog bahkan siap menjadi pak post yang menyampaikan surat anda kepada menteri terkait atau presiden,” tawarnya.

Pada pertemuan itu Menkominfo mengatakan akan membantu penyediaan hodspot dibeberapa titik kampus UIN Jakarta secara gratis. “Depkominfo akan dorong fasilitas IT terutama di lembaga pendidikan,” tandasnya.

Minggu, 11 Mei 2008

Guru Harus Kualified dan Mengenali Potensi Anak Didik

Penulis: Akhwani Subkhi


Auditorium Utama, UINJKT Online - Untuk mewujudkan kecerdasan anak didik, seorang guru harus memiliki kualifikasi, diantaranya kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran. Selain itu, guru dalam menjalankan tugasnya diharapkan berorientasi pada siswa, dinamis, dan demokratis. Demikian pernyataan tokoh pendidikan nasional, Prof Dr Arief Rahman, ketika menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Pendidikan bertema "Menuju Pendidikan yang Mandiri dan Bermartabat di Tengah Tuntutan Globalisasi", yang digelar Yayasan Aldiana Nusantara bekerjasama dengan LSM Pandu Pendidikan Indonesia, di Auditorium Utama, Minggu (4/5).

Menurut Arief, seorang guru harus mengenali ragam potensi kecerdasan anak didiknya. "Potensi kecerdasan anak didik sangat bervariasi seperti potensi spiritual, potensi perasaan, potensi akal, potensi sosial, dan potensi jasmani," papar dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO ini, memaparkan pula tentang indikator kesuksesan pendidikan. Menurut dia, sukses pendidikan ada lima yaitu apabila anak didik bertakwa, berkepribadian matang, berilmu mutakhir dan berprestasi, punya rasa kebangsaan, dan berwawasan global. "Proses mencapai sukses tersebut didukung oleh peran orang tua, pola asuh, peran guru, dan guru kreatif," jelasnya. Dia menambahkan, ada segi tiga kerjasama keberhasilan pendidikan yaitu anak, orang tua, dan sekolah.

Hadir pula dalam sesi ini sebagai pembicara anggota BSNP Depdiknas Prof Dr Yunan Yusuf, Guru Besar FITK Prof Dr Abuddin Nata, dan Dirjen Bimas Islam Depag RI Prof Dr Nasarudin Umar.

Yunan Yusuf berbicara mengenai upaya meningkatkan perbaikan kualitas dan kesejahteraan guru. Menurut Yunan, dalam melaksanakan tugas profesionalnya, guru berhak memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial. "Penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum mencakup gaji pokok (tunjangan yang melekat pada gaji), tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan," jelas mantan Dekan FDK UIN Jakarta.

Sementara itu, Abuddin Nata memaparkan peran pemerintah dalam melaksanakan program pendidikan kecakapan hidup yang bermutu demi pemberantasan pengangguran. Menurut Abuddin, pengangguran muncul dikarenakan berbagai faktor/penyebab, diantaranya program pendidikan yang kurang match dengan tuntutan dunia usaha dan industri, sikap mental dan etos kerja pencari kerja yang relative rendah, budaya masyarakat yang kurang mendukung kerja keras, dan tidak seimbangnya jumlah pencari kerja dengan lapangan kerja yang tersedia.

"Di antara cara yang bisa ditempuh untuk mengatasinya yaitu perlu menjalin kerjasama dan kemitraan antara lembaga pendidikan dengan dunia industri/perusahaan, baik jasa atau lainnya, misalnya, dengan kegiatan magang," ungkap mantan Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum UIN Jakarta. Selain itu, lanjut dia, perlu pula mengembangkan model pembelajaran yang berpusat pada siswa, menggali bakat, minat, dan kecenderungan serta mengembangkannya secara aktual, misalnya, progressive learning, problem based learning, learning by doing, dan sebagainya.

Sedangkan Nasarudin Umar yang menjadi pembicara terakhir memaparkan pengalaman pendidikan anaknya ketika belajar di Washington, Amerika Serikat. Dia mengungkapkan sistem pembelajaran di sana lebih banyak di luar kelas dan melatih kemandirian.. "Belajar di luar kelas atau learning by doing lebih efektif dibandingkan belajar di dalam kelas," ungkapnya.

Dia berharap agar sekolah seyogyanya bisa menjadi faktor utama dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak, bukan laingkungan yang mempengaruhinya. Selain itu, dia juga mengungkapkan agar sekolah mampu melatih anak didiknya untuk mandiri. "Kemandirian anak sangat penting bukan hanya intelektual, tapi pula mental. Kemandirian harus dimulai sejak kecil, misalnya, ketika duduk di Taman Kanak-kanak," harapnya.

Persoalan Pendidikan yang Belum Terselesaikan

Penulis: Akhwani Subkhi

Auditorium Utama, UINJKT Online – Persoalan pendidikan di Indonesia, kian hari kian kompleks. Setidaknya terdapat empat persoalan utama dalam pendidikan nasional di negeri ini. Keempat masalah tersebut adalah akses dan pemerataan pendidikan masih belum maksimal, mutu pendidikan masih rendah, manajemen pendidikan (tata kelola dan good governence) yang kurang baik, dan tidak adanya relevansi pendidikan dengan dunia kerja.

Pernyataan tersebut diungkapkan dosen Universitas Negeri Jakarta, Dr Urifah Rosyidi M.Pd, saat menjadi pembicara Seminar Nasional Pendidikan bertema "Menuju Pendidikan yang Mandiri dan Bermartabat di Tengah Tuntutan Globalisasi", yang digelar di Auditorium Utama pada (4/5). Acara ini dilaksanakan oleh Yayasan Aldiana Nusantara bekerjasama dengan LSM Pandu Pendidikan Indonesia.

"Hingga kini keempat persoalan tersebut belum dapat diatasi," tegasnya. Selain memaparkan persoalan utama pendidikan, dia memaparkan pula tantangan mutu pendidikan. Tantangan tersebut menurut dia adalah program pendidikan berorientasi pada proyek, koordinasi antar lembaga lemah, rendahnya kemampuan SDM dan komitmen birokrasi, dan anggaran pendidikan yang tidak sesuai amanat UUD.

Dia menjelaskan bahwa orientasi dasar pedagogis adalah memanusiakan manusia, memerdekakan anak didik dari belenggu, bisa menghargai perbedaan, dan bisa bersikap demokratis.

"Standarisasi kompetensi dan efesiensi seperti Ujian Nasional, Badan Hukum Pendidikan, dan Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan terminologi industri yang sedang merajai dunia pendidikan saat ini dan dipandang telah mereduksi makna kemanusiaan dan tujuan utama pendidikan," papar perempuan yang kini menjabat sebagai salah seorang Pengurus Besar PGRI.

Selain itu, dia bicara pula tentang kecakapan hidup. Menurut dia kecakapan hidup adalah sesuatu yang tangible dan intangible. "Pengertian kecakapan hidup yang diberikan oleh pemerintah sangat terbatas," kritiknya. Jenis kecakapan hidup, imbuhnya, seperti kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan akademik, kecakapan vocasional, dan kecakapan personal dan sosial.

Dia menjelaskan, pengukuran kecakapan hidup ini bisa dilakukan, misalnya, pada kecakapan vocasional diukur dari penguasaan kompetensi bidang yang spesifik. Sedangkan pada kecakapan akademik diukur dari kesadaran dan variasi daya fisiknya, kritis, dan lainnya.

Sementara itu, Guru Besar FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta Prof Dr Agus Suradika yang menjadi pembicara kedua lebih fokus memaparkan mengenai implementasi kebijakan sertifikasi guru, misalnya tahun 2007. Menurut Agus sertifikasi tahun 2007 memiliki tiga kelemahan yaitu pilih kasih, adanya pemalsuan dokumen, dan keterlambatan pemberian tunjangan.

"Di lapangan ada guru yang sudah lama mengajar tapi belum disertifikasi, sebaliknya ada guru yang waktu mengajarnya belum lama tapi sudah disertifikasi," papar Agus. Dalam pelaksanaan sertifikasi menurutnya diperlukan kejujuran dari pihak terkait.

Melihat masih adanya permasalahan dalam pelaksanaan sertifikasi, Agus menawarkan usulan perbaikan. Pertama, secara kelembagaan agar PGRI menjadi aktor utama dalam pemberian sertifikasi guru. Kedua, perbaikan dan pengembangan instrumen sertifikasi bukan hanya pada portofolio. Ketiga, keputusan Mahkamah Konstitusi tidak boleh menjadi kendala.

UKM FORSA Gelar Kejuaraan Karate se-Jawa dan Bali

Penulis: Akhwani Subkhi

Student Center, UINJKT Online - Untuk mencari dan mengkader atlet karate se-Jawa dan Bali, UKM Federasi Olahraga Mahasiswa (Forsa) menggelar turnamen Kejuaraan Karate UIN Cup IV se-Jawa dan Bali, di Hall Student Center. Kejuaraan itu dilaksanakan selama tiga hari mulai 14 hingga 16 Maret 2008.

Kejuaraan ini memperebutkan Piala Bergilir Rektor UIN Jakarta, Piala Tetap Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, dan Dinas Olahraga dan Pemuda (Disorda) DKI Jakarta. "Kejuaraan ini dilaksanakan sebagai pengkaderan atlet dan pencarian bibit karate. Selain itu, turnemen ini juga untuk menguji mental mereka," tutur ketua panitia Ade Laili.

Menurut Ade, yang juga mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris semester akhir, peserta yang mengikuti kejuaraan ini berjumlah 380 orang yang berasal dari 50 kontingen.

"Para peserta berasal dari daerah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Mereka mewakili beberapa Perguruan Karate, Dojo (tempat latihan), dan kampus," tutur Ade saat dihubungi UINJKT Online, Jumat (14/3).

Kejuaraan tersebut terdiri dari lima kategori atau tingkatan, dini (9-12 tahun), pemula (13-15 tahun), kadet (16-17 tahun), junior (18-20 tahun), dan senior (20 tahun keatas). Di hari pertama ini (14/3) yang bertanding adalah tingkatan dini dan pemula dengan waktu selama satu setengah menit per pertandingan.

Acara tersebut dibuka secara resmi oleh staf Menpora RI Bidang Sumber Daya drg Akmal Mukhtar. Hadir pada kesempata itu, perwakilan Gubernur DKI Jakarta Drs Firmansyah, Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof Dr Ahmad Thib Raya, dan para peserta serta mahasiswa UIN Jakarta.

Prosesi pembukaan acara ini dilakukan usai salat Jumat, tepatnya pukul 13.30 WIB. Berbeda dengan prosesi pembukaan acara lain, pembukaan Kejuaraan Karate dilakukan di pertengahan pertandingan. "Sebelum dilakukan pembukaan, terlebih dahulu diisi dengan pertandingan kata (penampilan jurus) dari tiap kontingen. Pertandingan kata ini dilakukan dari pukul 09.00 hingga 11.00," jelas Ade.

Ahmad Thib Raya dalam sambutannya mengungkapkan kebanggaannya terhadap pelaksanaan kejuaraan ini. "Kami bangga karena karate UIN Jakarta bisa menunjukan eksistensinya," ucapnya. Sedangkan menurut ketua panitia kejuaraan ini merupakan agenda dwitahunan Forsa Divisi Karate.

Kegiatan tersebut berlangsung atas dukungan dana dari berbagai pihak. Rektorat UIN Jakarta bertindak sebagai sponsor terbesar. Sejumlah perusahaan dan instansi pun turut mensponsori acara itu. Diantaranya Kopiko, Coca Cola, Disorda DKI Jakarta, dan Menpora RI. Selain didukung para sponsor tersebut, acara ini juga didukung Forki DKI Jakarta sebagai wasit dan juri.

Kejuaraan yang telah dipersiapkan sejak lima bulan lalu itu, berhasil menyedot animo civitas akademika kampus ini. Mereka tertarik, karena acara tersebut termasuk jarang digelar di UIN Jakarta. Mahasiswa Perbankan Syariah, Alfi Fajrin, salah satu penonton yang ditemui UINJKT Online mengungkapkan, kegiatan ini sangat positif untuk mempublikasikan kampus UIN agar dikenal publik.

Sementara itu, salah seorang peserta putri dari Bandung Karate Club (BKC) memandangnya sebagai tempat unjuk gigi. "Turnemen ini sebagai wadah untuk menguji ilmu atau kemampuan karate mereka dan memberikan nilai edukasi kepada peserta bahwa bertarung/berkelahi itu ada tempatnya," tutur Icha.

Saat ini Kita Butuh Guru Kreatif

Penulis Akhwani Subkhi

Ciputat, UINJKT Online - Pemerintah harus meningkatkan insentif dan kesejahteraan bagi para guru jika mereka ingin menjadi sosok guru yang kreatif. Demikian pernyataan dosen Pascasarjana Universitas Indonesia Renald Kasali ketika berdiskusi di acara Opening Session dan Dialog Pendidikan, di Saung Bambooina, Ciputat, Minggu (13/4).

Dialog pendidikan yang bertemakan Strategi Pengembangan Sekolah Guru Kreatif dalam Upayanya Melakukan Penetrasi ke Sekolah-sekolah di Indonesia ini dilaksanakan oleh tim manajemen Sekolah Guru Kreatif (SGK) dalam rangka pemberian tanda bukti kelulusan (ijazah) peserta angkatan pertama dan opening session angkatan kedua SGK.

Menurut Renald, saat ini insentif dan kesejahteraan guru yang diberikan pemerintah masih kecil. "Apabila guru ingin kreatif maka insentif yang diberikan harus lebih baik," ungkap Renald. Dia menuturkan guru kreatif sangat dibutuhkan di negeri ini mengingat kondisi pendidikan kita tidak terlalu menguntungkan tertinggal jauh dengan negara lain dan masih menggunakan metode pembelajaran menghafal atau hafalan.

"Selain itu, hal terpenting bagi guru kreatif adalah mampu mengajarkan anak didik dan masyarakat agar menghargai dan mengapresiasi budaya orang lain. Sekarang ini di masyarakat lagi beredar sikap tidak menghargai dan mengapresiasi orang lain," terangnya.
Laki-laki berkacamata ini meminta seorang guru dapat memancing dan menghargai kreatifitas anak didiknya supaya mereka bisa menunjukan kreatifitas yang dimilikinya. "Dalam pendidikan apabila seorang anak diapresiasi maka dia akan menunjukan kreatifitasnya. Tugas guru adalah memancing kreatifitas siswa tersebut," jelasnya.

Sementara itu pembicara lain Utomo Dananjaya, mengatakan untuk menjadi orang kreatif harus sering melakukan perubahan dan sering berimajinasi atau latihan. Selain itu, dia menyarankan agar jangan memelihara kebiasaan tapi menciptakan kebiasaan baru.
Dia juga meminta agar guru selalu berpikir apabila ingin kreatif. "Kalau guru tidak berpikir bagaimana dia mau kreatif," ungkap laki-laki yang biasa disapa Mas Tom ini.

3 Pengurus Partai Islam Tepis Tren Penuruan

Penulis: Akhwani Subkhi

Student Center
, UINJKT Online - Tiga partai yang berazaskan Islam menepis hasil survey Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang menyatakan trend partai Islam menurun. Ketiga partai tersebut adalah Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Pernyataan itu disampaikan perwakilan dari ketiga partai ketika menjadi narasumber acara talkshow bertajuk Kancah Politik Partai Islam Menuju Pemilu 2009, di Aula Student Center, Senin, (21/4) malam. Acara talkshow ini merupakan rangkaian acara UIN Book Fair 2008 yang diselenggarakan oleh beberapa Badan Eksekutif Mahasiswa dari Partai Intelektual Muslim (PIM).

Wakil Sekretaris Jenderal PBB Sabar Sitanggang membantah keras hasil survei LSI tersebut. "Trend partai Islam menurun itu salah dan ini jelas-jelas menyesatkan," ungkap Sabar dengan tegas. Pernyataan Sabar itu didukung Ketua Bidang Humas DPP PKS Ahmad Mabruri yang mengatakan hasil survei LSI salah ada benarnya.

"Pada 2004 hasil survei LSI menyatakan PKS tidak akan lolos electoral treshold, tapi kenyataanya PKS lolos," papar Mabruri. Sementara itu Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP Sihabudin Nur mengungkapkan hasil penelitian LSI ok-ok saja karena telah menggunakan metodologi. "Namun, LSI hanya memaparkan hasilnya saja tapi tidak mempublikasikan misalnya variabel dan indikator penelitian yang digunakan," ungkapnya.

Selain menolak hasil survei, ketiga partai itu juga menepis pernyataan yang mengatakan partai yang menggunakan ideologi Islam mulai mencair. Menurut Mabruri ideologi Islam mulai mencair itu tidak ada dan tidak benar. Sedangkan menurut Sihabudin istilah cair tidak cair ideologi Islam itu hanya konstruksi pers saja. "Saya tidak percaya dengan hal itu," tegasnya.

Namun sayangnya, dalam kesempatan tersebut, pihak LSI tidak diundang. Sehingga, sejumlah peserta menganggap acara tersebut tidak fair.

Selasa, 06 Mei 2008

Kunci Utama Menuju Pelaminan
Penulis Akhwani Subkhi

Student Center, UINJKT Online - Kunci terpenting bagi seseorang yang ingin menempuh jenjang pernikahan atau pelaminan adalah kesiapan lahir dan bathin, serta mempunyai penghasilan untuk dijadikan nafkah hidup. Demikian kesimpulan acara Bedah Buku berjudul "Aisyah dan Maisyah" yang digelar dalam rangkaian UIN Book Fair (UBF) yang digelar atas kerja sama antar BEM Fakultas dan Jurusan UIN Jakarta di Student Center, Sabtu (26/4).

Menurut penulis buku Ahmad Gozali, laki-laki maupun perempuan tidak perlu takut untuk menikah, walaupun masih muda asalkan memiliki penghasilan yang cukup. "Untuk menuju jenjang pernikahan tidak mesti harus sudah mapan. Sebab kunci utama nikah adalah sudah siap dan punya nafkah," papar Gozali.

Lebih lanjut dia menjelaskan di masyarakat ada kesalahan dalam menempatkan prioritas sebelum menikah, misalnya, seberapa banyak dana yang harus disiapkan untuk prosesi/resepsi pernikahan. Tapi, menurut dia, seharusnya yang menjadi prioritas adalah seberapa siap seseorang untuk menanggung nafkah setelah menikah nanti. "Bukan dana sebelum nikah, tapi nafkah setelah nikah," jelasnya.

Menurut Gozali, sapaan akrab beliau, setiap laki-laki dan perempuan yang ingin menikah harus mempunyai persiapan. Persiapan tersebut di antaranya bagi laki-laki harus bersyukur dengan apa yang ada/didapat sekarang. Selain itu, dia juga harus bisa memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri dan harus dinamis untuk bisa menambah nafkah atau penghasilan.

"Sementara itu, bagi kaum hawa perlu menyiapkan diri untuk mengelola keuangan sendiri karena ketika menikah dia akan menjadi menteri keuangan rumah tangga," ungkapnya. Selain itu, tambah dia, perempuan harus siap untuk hidup mulai dari awal atau nol.

Menurut penulis sebelum menikah tepatnya ketika perkenalan/ta'aruf perlu adanya pembicaraan atau keterbukaan terkait jumlah penghasilan masing-masing. "Ini penting karena sensitif dan agar tidak ada rasa kecewa dengan nafkah yang diberikan," jelasnya. Dia menghimbau kepada siapa pun agar tidak membatasi diri untuk menerima rizki dengan mematok target usia menikah harus sekian dan menunggu ini dan itu.

"Nikah adalah rizki, maka kita jangan membatasi diri harus menikah di usia sekian dan nunggu ini-itu. Kalau ada yang sudah siap ya laksanakan saja," himbaunya. Dia juga memaparkan tanggung jawab keuangan dalam rumah tangga. Suami dan istri mempunyai tanggung jawab sama yaitu memberi nafkah sesuai kemampuannya. Namun, apabila istri tidak mempunyai penghasilan, menurut dia tidak usah khawatir.

Senin, 05 Mei 2008

Prof Dr Arief Rahman

Tujuan Pendidikan Nasional Belum Tercapai Secara Menyeluruh

Pada bulan Mei tahun ini, ada dua kegiatan besar dalam dunia pendidikan nasional. Pertama, peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei kemarin dan kedua, pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMP atau Sederajat yang jatuh pada 5-9 Mei ini. Bagaimana pendapat salah satu tokoh pendidikan nasional Prof Dr Arief Rahman memandang kedua kegiatan besar tersebut. Berikut petikan wawancara Akhwani Subkhi dari UINJKT Online dengan Prof Arief seusai menjadi pembicara Seminar Nasional bertema ”Menuju Pendidikan yang Mandiri dan Bermartabat Di Tengah Tuntutan Globalisasi” di UIN Jakarta, pada (4/5).

Menurut Anda makna hari pendidikan nasional sendiri seperti apa?

Hardiknas namanya peringatan, jadi ia harus mengingatkan kita kepada tujuan pendidikan itu apa, jadi itu yang harus dicapai. Dan menurut saya pendidikan tujuannya belum tercapai secara menyeluruh.

Maksudnya belum tercapai secara menyeluruh?

Sekarang kan Ujian Nasional baru pada mata pelajaran tertentu saja, akhlak mulia belum, budi pekerti belum, dan demokratis belum. Itu semua harus disapa dengan baik ya,! itu menurut saya. Jadi, kita harus bisa memenuhi persyaratan kognitif, afektif, dan psikomotor. Potensi yang harus dikembangkan adalah potensi spiritual, potensi emosional, potensi sosial, potensi intelektual, dan potensi jasmani.

Menurut Anda pelaksanaan Ujian Nasional sendiri harusnya seperti apa?

Pelaksanaan Ujian Nasional menururt saya yang dilakukan sekarang ini bukan UN, tapi pemetaan. Kalau ujian harus dibuat sebuah rumus yang memperhitungkan kekuatan daerah itu masing-masing.

Bagaimana Anda melihat kondisi pendidikan nasional secara umum?

Kalau undang-undang dengan itu sudah bagus. Undang-undang dengan standar-standar yang ada sudah bagus, tapi yang tidak baik adalah pelaksanaan di lapangan. Pelaksanaan di lapangan kan banyak kecurangan, banyak yang asal jalan, dan banyak yang belum mencapai tujuan.

Lalu solusi agar pendidikan nasional lebih baik?

Semuanya harus turun tangan, semua harus memperbaiki diri bersama-sama.

KMSGD, Nasibmu Kini!

Refleksi pribadi seorang kader

Oleh Akhwani Subkhi*

Miris dan ironis. Mungkin dua kata itulah yang akan keluar dari mulut kita apabila melihat keadaan KMSGD sekarang. Sebuah organisasi yang sudah berdiri lebih dari empat dasa warsa ini, kini dalam keadaan vacum. Dengan kata lain, keadaanya walayahya walayamuut. Prihatin memang. Sudah empat bulan terhitung mulai akhir Januari lalu hingga kini nyaris tidak ada kegiatan yang digelar satu pun. Padahal, konferensi kemarin sudah jelas hanya mengamanatkan pelaksanaan Kongres Luar Biasa (KLB) ansich. Tapi nyatanya, sampai detik ini KLB belum jua dilaksanakan. Pertanyaannya, ngapain aja selama ini? Alasan klise yang muncul adalah masih menunggu perbaikan anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah tangga (ART) KMSGD dari tim revisi. Sampai kapan harus menunggu coy?

Perlu diingat bahwa revisi AD dan ART ini sudah berjalan sekitar satu semester, tapi hasilnya hingga kini nihil. Tanya kenapa? Seyogyanya Sugawan yang terpilih dalam konferensi lalu bisa menjemput bola, bukan sebaliknya. Artinya, dia harus kreatif bagaimana caranya agar draft revisi AD/ART bisa selesai dan KLB bisa terlaksana secepatnya. Karena konferensi mengamanatkan pelaksanaan KLB selambat-lambatnya pada Maret lalu. Berarti amanat konferensi kemarin dikhianati dan tidak ada gunanya. Agar revisi ini bisa cepat selesai dia harus hiperaktif berkomunikasi dengan tim revisi supaya menyelesaikan tugasnya. Jika toh tim masih tidak bisa kerja cepat, dia bisa mengambil alihnya dan membentuk tim baru untuk merevisi AD/ART. Tentunya mereka adalah kader yang lebih progres, cepat, dan punya waktu luang banyak.

Memang keadaan KMSGD sekarang sedang dalam masa transisi. Pasalnya, status organisasi ini akan diubah yang dulunya KMSGD Cabang Ciputat menjadi KMSGD Jakarta Raya. Hebat euy! Tapi kapan perubahan status organisasinya? Akibat tak kunjung selesai perubahan status ini maka KMSGD pun sepi dari kegiatan yang biasanya dilaksanakan. KMSGD seharusnya malu dengan organisasi disekitarnya yang sudah mengadakan kegiatan.

KMSGD adalah organisasi yang hebat karena sudah memiliki dua asrama yang megah dan kokoh, ditambah senior-senior yang hebat pula. Tapi kehebatan tersebut tidak ada artinya karena hanya sebagai tempat konkow-konkow alias tempat numpang tidur belaka. KMSGD sepi dari kegiatan. Prihatin juga ya! Akan tetapi, ada hal lain yang mungkin menjadi keprihatinan kita yaitu konon loyalitas anggota organisasi (terutama penghuni asrama, baik putra maupun putri) dipertanyakan dan mulai semakin mencair. Sugawan-sugawati cenderung mengucilkan bahkan acuh atak acuh dengan KMSGD. Sebaliknya, Sugawan-sugawati lebih memilih untuk membesarkan organisasi atau komunitas lain. Mungkin fenomena seperti itu yang paling memprihatinkan.

Sebenarnya, fenomena tersebut bisa dicegah apabila nahkoda sekarang piawai dalam mengemudikan kapalnya (organisasi-red). Tapi sayangnya, nahkoda kita tidak piawai sehingga kapal yang sedang kita naiki sekarang dalam keadaan oleng tidak menuntut kemungkinan cepat atau lambat akan tenggelam alias wassalam. Jangan sampai dech!. Perlu dicatat, organisasi KMSGD merupakan organisasi yang sudah tua dan dikenal sejak lama serta memiliki nilai historis cukup panjang. Jadi, malu apabila tiba-tiba KMSGD bubar begitu saja. Mari kita lestarikan apa yang sudah dilakukan dan diberikan para lelulur atau senior kita dahulu. Walahualambishowab. []




* Akhwani Subkhi, Anggota KMSGD dan Mantan Ketua Umum HIMA-CITA

Selasa, 29 Januari 2008

Dr Yuddy Chrisnandi

Rekonstruksi Nasionalisme Kaum Muda
Jum'at, 16 November 2007 | 16:54 WIB

Di Koran Tempo beberapa waktu lalu, saya menulis tentang kepemimpinan kaum muda yang ternyata mendapat sambutan cukup bagus dari banyak pihak. Saya mendapat banyak pesan singkat yang intinya mendukung artikel saya berjudul Menggagas Kepemimpinan Kaum Muda (Koran Tempo, 30 Oktober 2007). Gerakan "Saatnya Kaum Muda Memimpin", yang dipelopori Sukardi Rinakit, dan gerakan "Bangkit Indonesia", yang digagas Rizal Ramli, juga mengkampanyekan tema yang sama: kebangkitan kaum muda.

Di tengah wacana kepemimpinan kaum muda, seorang teman diskusi dari Universitas Indonesia, Abdul Gafur Sangadji, dalam artikelnya "Prospek Kepemimpinan Kaum Muda" (Koran Tempo, 3 November) mengulas dengan bagus beberapa faktor yang bisa menghalangi tampilnya kaum muda di panggung politik 2009. Saya kira benar bahwa wacana kepemimpinan kaum muda belum banyak direspons oleh partai politik, sehingga bisa saja wacana ini sekadar basa-basi politik di tahun ini. Tentu saja ini tidak kita inginkan. Kaum muda harus terus didorong untuk berani tampil.

Karena itu, tema kaum muda masih sangat relevan untuk didiskusikan dalam pergulatan politik sehari-hari. Sejarah tidak akan menenggelamkan kaum muda yang kehadirannya dalam pandangan Taufik Abdullah bukan semata-mata gejala demografis, tapi juga fakta sosiologis dan historis. Ia memandang kelahiran kaum muda tidak hanya mengisi sebuah episode generasi baru, mengganti generasi tua, tapi lebih dari itu ia merupakan subyek potensial yang menjanjikan. Kaum muda berpotensi mendorong agenda perubahan dalam masyarakat sekalipun berada dalam kungkungan rezim penjajah. Kenapa?

Ada hal fundamental yang membedakan kamu muda dari kaum tua. Kaum muda selalu melawan, sementara kaum tua senantiasa berkompromi. Peristiwa Rengasdengklok saat Soekarno-Hatta diculik kaum muda dan mendesakkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah satu bukti sejarah yang sulit dibantah betapa kaum muda tidak tunduk pada "kompromi". Kaum muda memaksa Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan atas nama bangsa Indonesia. Jepang, yang sudah dilumpuhkan oleh tentara Sekutu dalam Perang Dunia II setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom atom pada 6 dan 9 Agustus 1945, membuat pemuda tidak percaya pada janji kemerdekaan pemerintah kolonial Jepang.

Tak salah jika Richard Robinson kemudian mengkategorikan kaum muda sebagai bagian dari kelas menengah sosial, yakni mereka yang datang dari kelas intelektual dengan pengetahuan yang mapan. Robinson menggunakan indikator intelektual untuk membedakannya dengan kelas menengah yang lain. Kaum muda adalah komunitas yang berpendidikan tinggi dan tercerahkan secara ilmu pengetahuan. Kaum muda adalah sosok yang berpikir kritis dan revolusioner dalam bertindak. Kaum muda punya nasionalisme kebangsaan yang tinggi.

Sayangnya, ciri-ciri unik kaum muda itu kini mulai sirna perlahan-lahan. Kaum muda kurang menampilkan karakter intelektual yang netral, nasionalisme yang menggebu-gebu, malah justru terjebak dalam pragmatisme dan hedonisme. Sehingga kaum muda kemudian ditengarai mengalami krisis nasionalisme. Terjadi pergeseran orientasi nilai kaum muda. Kaum muda sudah kurang menghayati nilai-nilai kepahlawanan.

Nasionalisme kaum muda mengalami erosi yang luar biasa. Berapa banyak kaum muda yang tahu bahwa 10 November adalah Hari Pahlawan? Kalaupun ada yang tahu, berapa banyak yang bisa memaknai Hari Pahlawan tersebut? Pasti tidak banyak. Karena nasionalisme kaum muda sudah terasa menjadi sesuatu yang "banal", sesuatu yang mengalami pendangkalan makna. Seolah-olah, bagi kaum muda masa kini, nasionalisme bukan sesuatu yang penting lagi. Nasionalisme hanya milik tentara. Nasionalisme hanya urusan upacara bendera. Betulkah demikian?

Kita harus meninggalkan cara pandang Ernest Renan bahwa nasionalisme bukan lagi sekadar kehendak untuk bersatu (le desir d'etre ensemble) sebagai sebuah negara-bangsa. Sejatinya, nasionalisme yang utuh adalah ide dan cita-cita tentang sebuah masa depan: bagaimana karakter sebuah bangsa yang merdeka kukuh di tengah arus globalisasi. Karena itu, nasionalisme lama harus direkonstruksi menjadi nasionalisme baru yang berpijak pada tantangan-tantangan kebangsaan yang makin kompleks. Menurut saya, nasionalisme baru kaum muda adalah nasionalisme original yang tidak dibangun dari atas lalu meluncur ke bawah yang oleh sejarawan Charles Tilly, disebut sebagai state-led nationalism (dalam
buku States and Nationalism in Europe 1492-1992, 1994). Sebab, nasionalisme kaum muda adalah nasionalisme yang tidak dibentuk oleh rezim, melainkan sesuatu yang muncul secara alamiah.

Karena
Indonesia sebagai "proyek bersama" belum selesai, tugas kaum muda kemudian adalah memastikan jalan baru agar keindonesiaan tidak mati. Keindonesiaan penting untuk dirumuskan kembali lewat rekonstruksi nasionalisme yang lebih kontekstual. Bagaimana nasionalisme baru kaum muda hadir dalam semangat untuk melawan empat permasalahan pokok yang saya sebut 4K: kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan ketidakadilan. Karena itu, civic nationalism atau nasionalisme kewargaan harus menjadi agenda utama kaum muda masa kini. Karena civic nationalism adalah antitesis terhadap nasionalisme berbasiskan etnis.

Nasionalisme yang civic mampu menempatkan segenap elemen bangsa melampaui batas agama, ras, dan suku sebagai komunitas setara. Nasionalisme ini secara inheren berciri demokratis karena dibangun beralaskan prinsip kedaulatan rakyat. Nasionalisme yang civic juga menjadi semacam etik dalam ranah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kenapa nasionalisme baru kaum muda ini penting? Sesungguhnya, rekonstruksi nasionalisme kaum muda punya dasar logika yang kuat. Bahwa tantangan kebangsaan yang kita hadapi sekarang ini telah bergeser dari isu-isu lama ke isu-isu kontemporer yang membutuhkan nilai-nilai baru yang dikonstruksikan sesuai dengan tantangan zaman. Tantangan yang harus diatasi oleh kaum muda hari ini adalah membuat
Indonesia berdaulat. Berdaulat atas tanah, air, dan segala yang terkandung di dalamnya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Kedaulatan tak akan berarti jika kesejahteraan hanya menjadi pepesan kosong, sekadar retorika politik yang manis dan bual. Kedaulatan juga tak akan bermakna manakala harkat dan martabat bangsa sering diinjak-injak bangsa lain.

Karena itu, yang penting sekarang bagi kaum muda adalah bukan sekadar merebut kekuasaan dari kaum tua, melainkan apa manifesto kaum muda masa kini. Semangat kepemimpinan kaum muda yang tidak disokong oleh nilai-nilai kebangsaan yang tinggi hanya akan membuat kaum muda tak ada bedanya dengan kaum tua: sekadar mencari kekuasaan. Kaum muda bisa dicap besar nafsu ketimbang ide. Besar semangat ketimbang kerja. Untuk itu, kaum muda harus bangkit. Nasionalisme baru kaum muda harus digelorakan agar bangsa ini bisa bangkit dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Nasionalisme baru kaum muda adalah lawan 4K: kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan ketidakadilan.

Dr Yuddy Chrisnandi, Koordinator Koalisi Muda Parlemen
Indonesia (DPR RI), Pengurus Pusat Partai Golkar

Senin, 21 Januari 2008

REFLEKSI TAHUN BARU 1 MUHARRAM 1429 H

Pada 10 Januari lalu, umat muslim di seluruh penjuru dunia, tak terkecuali di Indonesia melakukan pergantian tahun baru Islam, yakni 1 Muharram 1429 H. Pergantian tahun baru hijriah ini hanya berselang satu pekan dari pergantian tahun baru masehi, 1 Januari 2008. Namun, kita sebagai umat muslim tidak menyambut dan merayakan pergantian tahun hijriah semeriah dan seheboh ketika menyambut dan merayakan tahun baru masehi. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa umat muslim di negeri ini mulai anak-anak, remaja, hingga orang dewasa atau orang tua menyambut pergantian tahun baru masehi begitu antusias dan gembira.

Pada saat menyambut pergantian tahun masehi kita pergi ramai-ramai ke suatu tempat tertentu untuk merayakan datangnya tahun baru dengan beraneka macam acara dan aktifitas. Kita rela menghabiskan sejumlah uang dalam beberapa jam saja hanya untuk bersenang-senang dan berfoya-foya pada saat pergantian tahun ini. Selain uang kita juga menghabiskan banyak waktu dan tenaga yang seharusnya digunakan untuk istirahat dan mengerjakan hal-hal positif. Kita rela begadang semalaman hingga pagi hari hanya untuk meniupkan terompet dan menyalakan kembang api tahun baru. Begitu riang dan meriahnya kita merayakan tahun baru masehi. Lantas bagaimana kita menyambut datangnya tahun baru hijriah yang notabene sebagai tahun kita sendiri, apakah kita melakukan hal sama ketika menyambut pergantian tahun hijriah?

Jawaban pertanyaan diatas tentu tidak sama. Dalam menyambut datangnya tahun baru 1 Muharram kita tidak banyak melakukan aktifitas sebagaimana yang dilakukan ketika menyambut datangnya tahun masehi. Pesta kembang api yang dibarengi tiupan terompet tidak terdengar ketika tahun baru Islam datang. Bahkan diantara kita ada yang beranggapan tahun baru Islam tidak berkesan, menarik dan lainnya. Tapi yang lebih menyakitkan adalah kita acuh tak acuh terhadap datangnya tahun baru Islam ini. Padahal kita adalah umat muslim yang seyogyanya dapat menyambut pergantian tahun ini dengan rasa gembira dan bersyukur.

Mungkin harus dapat dimaklumi kenapa kita tidak gembira dan antusias menyambut tahun baru hijriah ini, karena negera kita tidak menggunakan kalender hijriah, tapi menggunakan kalender masehi. Tanggal, bulan, dan tahun lahir, penentuan jadwal masuk kerja, dan lainnya semuanya menggunakan kalender masehi. Bahkan penentuan peringatan hari besar Islam, seperti bulan ramadhan, idul fitri dan idul adha dan sebagainya pun memakai kalender masehi. Meskipun Negara kita tidak menggunakan kalender hijriah dalam penentuan waktu, tapi selaku muslim kita patut memperhatikan kalender hijriah dalam keseharian. Sebab bagaimana pun hijriah adalah milik kita.

Sebagai seorang muslim hendaknya kita bahagia dengan datangnya 1 Muharram ini. Sebab Muharram merupakan bulan yang mempunyai beberapa pesan atau keutamaan didalamnya, seperti mengenang hijrah nabi Muhammad SAW. Selain itu Muharram disebut juga bulan haram dan bulan Allah. Ketika bulan Muharram tiba umat muslim disunnahkan berpuasa pada tanggal 10 Assyura.

Kita berharap semoga kalender hijriah tidak diabaikan hanya karena negera kita menggunakan kalender masehi. Sebab jika bukan kita yang menggunakannya, terus siapa yang akan memakainya? Selamat tahun baru Islam 1 Muharram 1429 H.