Senin, 05 Mei 2008

KMSGD, Nasibmu Kini!

Refleksi pribadi seorang kader

Oleh Akhwani Subkhi*

Miris dan ironis. Mungkin dua kata itulah yang akan keluar dari mulut kita apabila melihat keadaan KMSGD sekarang. Sebuah organisasi yang sudah berdiri lebih dari empat dasa warsa ini, kini dalam keadaan vacum. Dengan kata lain, keadaanya walayahya walayamuut. Prihatin memang. Sudah empat bulan terhitung mulai akhir Januari lalu hingga kini nyaris tidak ada kegiatan yang digelar satu pun. Padahal, konferensi kemarin sudah jelas hanya mengamanatkan pelaksanaan Kongres Luar Biasa (KLB) ansich. Tapi nyatanya, sampai detik ini KLB belum jua dilaksanakan. Pertanyaannya, ngapain aja selama ini? Alasan klise yang muncul adalah masih menunggu perbaikan anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah tangga (ART) KMSGD dari tim revisi. Sampai kapan harus menunggu coy?

Perlu diingat bahwa revisi AD dan ART ini sudah berjalan sekitar satu semester, tapi hasilnya hingga kini nihil. Tanya kenapa? Seyogyanya Sugawan yang terpilih dalam konferensi lalu bisa menjemput bola, bukan sebaliknya. Artinya, dia harus kreatif bagaimana caranya agar draft revisi AD/ART bisa selesai dan KLB bisa terlaksana secepatnya. Karena konferensi mengamanatkan pelaksanaan KLB selambat-lambatnya pada Maret lalu. Berarti amanat konferensi kemarin dikhianati dan tidak ada gunanya. Agar revisi ini bisa cepat selesai dia harus hiperaktif berkomunikasi dengan tim revisi supaya menyelesaikan tugasnya. Jika toh tim masih tidak bisa kerja cepat, dia bisa mengambil alihnya dan membentuk tim baru untuk merevisi AD/ART. Tentunya mereka adalah kader yang lebih progres, cepat, dan punya waktu luang banyak.

Memang keadaan KMSGD sekarang sedang dalam masa transisi. Pasalnya, status organisasi ini akan diubah yang dulunya KMSGD Cabang Ciputat menjadi KMSGD Jakarta Raya. Hebat euy! Tapi kapan perubahan status organisasinya? Akibat tak kunjung selesai perubahan status ini maka KMSGD pun sepi dari kegiatan yang biasanya dilaksanakan. KMSGD seharusnya malu dengan organisasi disekitarnya yang sudah mengadakan kegiatan.

KMSGD adalah organisasi yang hebat karena sudah memiliki dua asrama yang megah dan kokoh, ditambah senior-senior yang hebat pula. Tapi kehebatan tersebut tidak ada artinya karena hanya sebagai tempat konkow-konkow alias tempat numpang tidur belaka. KMSGD sepi dari kegiatan. Prihatin juga ya! Akan tetapi, ada hal lain yang mungkin menjadi keprihatinan kita yaitu konon loyalitas anggota organisasi (terutama penghuni asrama, baik putra maupun putri) dipertanyakan dan mulai semakin mencair. Sugawan-sugawati cenderung mengucilkan bahkan acuh atak acuh dengan KMSGD. Sebaliknya, Sugawan-sugawati lebih memilih untuk membesarkan organisasi atau komunitas lain. Mungkin fenomena seperti itu yang paling memprihatinkan.

Sebenarnya, fenomena tersebut bisa dicegah apabila nahkoda sekarang piawai dalam mengemudikan kapalnya (organisasi-red). Tapi sayangnya, nahkoda kita tidak piawai sehingga kapal yang sedang kita naiki sekarang dalam keadaan oleng tidak menuntut kemungkinan cepat atau lambat akan tenggelam alias wassalam. Jangan sampai dech!. Perlu dicatat, organisasi KMSGD merupakan organisasi yang sudah tua dan dikenal sejak lama serta memiliki nilai historis cukup panjang. Jadi, malu apabila tiba-tiba KMSGD bubar begitu saja. Mari kita lestarikan apa yang sudah dilakukan dan diberikan para lelulur atau senior kita dahulu. Walahualambishowab. []




* Akhwani Subkhi, Anggota KMSGD dan Mantan Ketua Umum HIMA-CITA

1 komentar:

PRO JUSTITIA mengatakan...

PEMETAAN ORGANISASI DAN RELEVANSINYA
TERHADAP EKSISTENSI ORGANISASI

Pendahuluan
Pada abad XIX terjadi ketegangan pemikiran, antara kelompok tradisional ortodok yang berpegang teguh pada kebenaran literal yang ada di konstitusi sebagai ukuran kebenaran organisasi versus kelompok liberal yang lebih menekankan kebenaran organisasi sebagai ekspresi pengalaman. Dari gabungan keduanya, Lindbeck mencoba keluar dari ketegangan itu dengan menawarkan konsep yang berbeda dari perdebatan di atas, yaitu organisasi sebagai jaring makna cultural linguistik. Artikel ini akan menerangkan seputar perdebatan antara kelompok-kelompok tersebut, perbandingan pemikiran Lindbeck dengan para pemikir lainnya. Kemudian saya mencoba mengontekkan pemikiran Lindbeck tersebut dalam lokus peta pemikiran di KMSGD.

Berbagai Macam Pendekatan Organisasi
Pada bagian ini saya akan mengutarakan empat pendekatan organisasi, yaitu pendekatan kognitif doktrin organisasi, pendekatan ekspresi pengalaman, pendekatan gabungan keduanya, dan pendekatan kultural linguistik.
Pertama, pendekatan kognitif literal doktrin organisasi. Kelompok ini disebut kaum ortodok tradisional. Mereka menekankan aspek kognitif dari doktrin, dan bagaimana doktrin organisasi berfungsi klaim kebenaran yang proporsional terhadap realitas obyektif. Mereka beranggapan bahwa ayat-ayat yang terdapat dalam konstitusi secara harfiyah (literally) menjadi ukuran kebenaran terhadap segala sesuatu mencakup sejarah, falsafah dan sebagainya.
Kelompok ini lebih fundamentalis, yaitu ingin memahami secara ketat apa yang dikatakan sebagai teori kebenaran. Bagi mereka, kebenaran adalah apa yang dikatakan secara akurat mewakili kenyataan yang diucapkan, kata dan kenyataan sesuai satu sama lain, dan ini adalah tradisionalis konservatif atau teologi ortodok.
Kedua, pendekatan ekspresi pengalaman. Kelompok yang menggunakan pendekatan ini disebut sebagai kelompok liberal. Pada abad ke-19, tradisi ilmu pengetahuan ‘air bah’ mainstrem pendekatan positivistik-naturalistik. Sehingga ada keinginan untuk menghapus segala sesuatu yang bersifat immaterial-ruhani. kecenderungan ini juga melanda diskusi tentang agama. Ada kecenderungan untuk merasionalisasi agama. Agama harus bisa ditilik dari pendekatan positivistik, yaitu perlu diterima oleh akal, mempunyai bukti-bukti historis yang meyakinkan. Demikian juga adanya organisasi.
Kelompok liberal menekankan pada ekspresi pengalaman yang menggambarkan orientasi perasaan, sikap dan eksistensi. Menurut Lonergan, karakter model teori organisasi yang bersifat ekspresi pengalaman adalah sebagai berikut: (1) Organisasi yang berbeda adalah ekspresi yang berbeda atau obyektivikasi pengalaman utama yang bersifat umum. (2) Pengalaman, kesadaran, mungkin tidak diketahui pada tingkat refleksi kesadaran diri. (3) Mempresentasikan keseluruhan eksistensi manusia. Dan (4) pada sebagian organisasi, pengalaman sumber obyektivikasi norma.
Ketiga, gabungan pendekatan kognitif literal doktrin organisasi dan pendekatan ekspresi pengalaman. Roma mencoba berusaha menggabungkan dua pendekatan ini, yitu menganggap bahwa proporsional kognitif merupakan dimensi ekspresi dalam bentuk simbol eksis. Tokoh penganjur pendekatan ini adalah Karl Rahner dan Bernard Lonergan dengan mengembangkan hibriditas dua pendekatan tersebut.
Lindbeck tidak puas dengan solusi yang ditawarkan oleh kelompok ini. Dia menggunakan pendapat Keinessen dari Widgenstein, yaitu untuk menghadapi masalah yang sulit dengan membuat masalah itu hilang. Atau untuk melawan suatu diskursus dilakukan dengan cara membuat diskursus yang baru. Lindbeck tidak berusaha menjawab pertanyaan yang diusung oleh kedua belah pihak, yaitu apakah ada kebenaran dalam literal kognitif atau apakah kebenaran ada pada organisasi yang berupa pengalaman ekspresif. Dia juga tidak menyalahkan atau membenarkan kedua aliran tersebut. Dia memunculkan pertanyaan baru, yaitu apakah organisasi berartiatau bermanfaat bagi kehidupan seseorang?
Lindbeck menawarkan pendekatan kultural linguistik. Menurutnya, organisasi adalah jaring makna yang dapat membantu manusia untuk memahami kehidupan ini. Organisasi adalah peraturan hidup, doktrin struktur, institusi, dan klaim kebenaran yang dapat membantu manusia untuk memahami kehidupan ini menjadi berarti. Dia membalik basis argumentasi yang digunakan oleh kelompok liberal. Bukannya organisasi merupakan hasil dari ekspresi keorganisasian manusia, melainkan adalah modal yang digunakan atau yang membimbing manusia untuk memperoleh pengalaman organisasi.

Perbandingan Terhadap Pemikir Lain
Para pemikir yang berdekatan dengan pendapat Lindbeck adalah sebagai berikut. Pertama, Clifford Geerzt berpendapat bahwa manusia hidup dalam kebudayaan (termasuk organisasi) yang diciptakannya sendiri yang merupakan sistem jaringan makna yang membuat manusia mempunyai makna hidup. Dalam hal ini bahasa memiliki posisi yang sangat penting dalam studi kebudayaan manusia. Walau Lindbeck tidak menyatakan secara eksplisit mengacu pendapat Clifford Geerzt, namun pemikiran yang ditawarkannya sangat mirip dengan pemikiran yang dikembangkan oleh Clifford Geerzt. Keduanya menganggap bahwa manusia hidup dalam jaring kultur yang diciptakannya sendiri maupun warisan dari pendahulunya. Menurut Clifford Geerzt, studi organisasi meliputi dua tahapan yaitu: (1) menganalisis sistem makna yang ada pada simbol organisasi dan (2) melihat struktur sosial dan proses psikologis.
Kedua, Peter L. Berger berpendapat bahwa ada hubungan dialektik antara individu dan masyarakat dalam tiga bentuk, yaitu internalisasi, eksternalisasi, dan obyektifikasi. Internalisasi adalah transformasi dari dunia obyektif menjadi dunia subyektif manusia. Eksternalisasi adalah proses penumpahan aktifitas fisik dan mental secara terus menerus. Obyektivasi adalah pencapaian hasil aktifitas fisik dan mental manusia yang kemudian menjadi sesuatu yang ada di luar manusia.
Saya menyejajarkan pemikiran cultural linguistik system dari Lindbeck relatif sejajar dengan internalisasi dari dialektika Peter L. Berger. Menurut saya, teori Peter L. Berger lebih bisa memotret kenyataan daripada teori yang dikembangkan oleh Lindbeck. Lindbeck hanya melihat manusia diciptakan oleh organisasi, sedangkan Berger melihat: (1) manusia melalui eksternalisasi menciptakan atau mempengaruhi organisasi, (2) melalui obyektifikasi, organisasi menjadi realitas obyektif yang ada di luar manusia, dan (3) melalui internalisasi, organisasi mempengaruhi (menciptakan) manusia. Berangkat dari dialektika yang dibangun Peter L. Berger ini, saya melihat kelemahan teori yang dikembangkan oleh Lindbeck bahwa teorinya tidak bisa melihat organisasi sebagai produk kultural manusia yang mengalami perubahan-perubahan dari waktu ke waktu.
Ketiga, Gadamer menerangkan bahwa manusia hidup dalam lingkup kultur, tradisi dan bahasa yang membentuk cakrawala (horison) yang sangat terbatas. Manusia harus mempunyai kesadaran sejarah, bahwa eksistensinya saat ini ditentukan warisan budaya masa lalu dari generasi terdahulu. Dan kini kehidupannya menggenggam segenap proyek ke depan. Dalam konteks seperti ini kita bisa menempatkan organisasi sebagai bagian dari warisan masa lalu yang menjadi modal bagi kehidupan kita saat ini dan untuk menghadapi kehidupan masa depan. Gadamer menempatkan prejudice (preunderstanding) sebagai modal untuk melakukan suatu dialog atau komunikasi terhadap orang lain. Baginya kita tidak bisa memisahkan antara subyek yang meneliti dan obyrk yang diteliti, obyektifitas tidak bisa memisahkan subyek dari sejarah. Orang melihat dari horison titik sejarah dan budaya tertentu.
Dalam hal ini ada kesamaan antara Gadamer dan Lindbeck, yaitu mereka sama-sama menempatkan organisasi (sebagai warisan sejarah) sebagai modal untuk dapat memahami dunia. Yang membedakan keduanya adalah (1) Gadamer lebih bekerja pada wilayah hermeneutik secara umum, sedangkan Lindbeck lebih fokus bekerja pada isu organisasi. (2) secara tegas menolak pendapat Diltey bahwa dengan menggunakan pendekatan filologi kita bisa menemukan kebenaran obyektif sejarah di dalam teks. Sedangkan Lindbeck tidak mengambil sikap begitu jelas terhadap klaim kelompok tradisional ortodok yang berpendapat bahwa ada kebenaran scientific pada teks.
Keempat¸ Plascher berpendapat bahwa kebenaran organisasi sangat terbatas pada asumsi (paradigma) yang dibangun terbatas pada suatu organisasi. Organisasi berisi petunjuk siapa kita, apa yang harus kita lakukan dan ke mana kita akan melangkah. Kita tidak bisa menggunakan satu aspek organisasi A untuk menilai organisasi B, karena masing-masing punya paradigma yang berbeda. Persamaan Plascher dan Lindbeck adalah sebagai berikut: (1) Secara umum keduanya melihat organisasi sebagai sesuatu yang positif. Namun Lindbeck melihat dari segi kemanfaatan organisasi bagi kehidupan ada organisasi yang baik dan ada organisasi yang jahat. (2) keduanya sama-sama menempatkan organisasi sebagai paradigma bagi manusia untuk melihat dunia. (3) keduanya sadar akan keterbatasan organisasi sebagai paradigma untuk memahami dunia.
Sedangkan para pemikir yang berseberangan dengan Lindbeck adalah:
Pertama, Habermas
Kedua, Karl Marx
Ketiga, Nietzsche

Peta Pemikiran di Indonesia
Saya berusaha untuk memetakan pemikiran kelompok Muslim Indonesia dengan menggunakan tipologi pendekatan Lindbeck sebagai berikut:
Pertama, tipe kognitif proporsional. Organisasi yang masuk dalam kategori ini adalah: Muhammadiyah, Hizbut Tahrir, Al-Irsyad, ICMI.
Kedua, tipe experiental expressive. Yang termasuk dalam tipe ini adalah Nahdlatul Ulama (NU), Keluarga Mahasiswa Sunan Gunung Djati (KMSGD). Karakteristik KMSGD yang menjadi alasan masuk pada kategori ini adalah: (1) Latar belakang lahirnya KMSGD adalah sebagai respon terhadap gerakan pemaksaan doktrin PKI terhadap pemuda dan kemunculan PKI yang mulai menanamkan isunya pada segenap mahasiswa. KMSGD lahir untuk memperkuat posisi tawar kultural Indonesia, supaya mereka diberi ruang kebebasan berekspresi sesuai dengan ekspresi pengalaman (experiental expressive). (2) Ada kecenderungan orang atau tokoh-tokoh KMSGD lebih mudah dekat dengan Militer daripada warga sipil. (3). Menghargai kebebasan dan keanekaragaman ekspresi pengalaman dan pengamalan agama Islam sesuai dengan kultur lokal setempat. (4) Tidak melakukan gerakan struktural untuk mendesakkan aturan agama Islam menjadi hukum positif negara, tapi lebih memilih gerakan kultural. (5) Selalu menghargai inovasi walau sering bertentangan dengan pemikiran sebelumnya.
Ketiga, tipe kultural linguistik. Jaringan Islam Liberal (JIL) dan kelompok LSM seperti LkiS dan Desantara menurut saya masuk dalam kategori ini. Karena mereka mengedepankan organisasi sebagai sistem makna yang unik yang perlu dihormati, bahkan mereka mempunyai program advokasi terhadap kelompok minoritas.

SALAM KEKELUARGAAN ...

Mr. Alilul Coroisme
KMSGD DIRECTOR