Selasa, 29 Januari 2008

Dr Yuddy Chrisnandi

Rekonstruksi Nasionalisme Kaum Muda
Jum'at, 16 November 2007 | 16:54 WIB

Di Koran Tempo beberapa waktu lalu, saya menulis tentang kepemimpinan kaum muda yang ternyata mendapat sambutan cukup bagus dari banyak pihak. Saya mendapat banyak pesan singkat yang intinya mendukung artikel saya berjudul Menggagas Kepemimpinan Kaum Muda (Koran Tempo, 30 Oktober 2007). Gerakan "Saatnya Kaum Muda Memimpin", yang dipelopori Sukardi Rinakit, dan gerakan "Bangkit Indonesia", yang digagas Rizal Ramli, juga mengkampanyekan tema yang sama: kebangkitan kaum muda.

Di tengah wacana kepemimpinan kaum muda, seorang teman diskusi dari Universitas Indonesia, Abdul Gafur Sangadji, dalam artikelnya "Prospek Kepemimpinan Kaum Muda" (Koran Tempo, 3 November) mengulas dengan bagus beberapa faktor yang bisa menghalangi tampilnya kaum muda di panggung politik 2009. Saya kira benar bahwa wacana kepemimpinan kaum muda belum banyak direspons oleh partai politik, sehingga bisa saja wacana ini sekadar basa-basi politik di tahun ini. Tentu saja ini tidak kita inginkan. Kaum muda harus terus didorong untuk berani tampil.

Karena itu, tema kaum muda masih sangat relevan untuk didiskusikan dalam pergulatan politik sehari-hari. Sejarah tidak akan menenggelamkan kaum muda yang kehadirannya dalam pandangan Taufik Abdullah bukan semata-mata gejala demografis, tapi juga fakta sosiologis dan historis. Ia memandang kelahiran kaum muda tidak hanya mengisi sebuah episode generasi baru, mengganti generasi tua, tapi lebih dari itu ia merupakan subyek potensial yang menjanjikan. Kaum muda berpotensi mendorong agenda perubahan dalam masyarakat sekalipun berada dalam kungkungan rezim penjajah. Kenapa?

Ada hal fundamental yang membedakan kamu muda dari kaum tua. Kaum muda selalu melawan, sementara kaum tua senantiasa berkompromi. Peristiwa Rengasdengklok saat Soekarno-Hatta diculik kaum muda dan mendesakkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah satu bukti sejarah yang sulit dibantah betapa kaum muda tidak tunduk pada "kompromi". Kaum muda memaksa Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan atas nama bangsa Indonesia. Jepang, yang sudah dilumpuhkan oleh tentara Sekutu dalam Perang Dunia II setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom atom pada 6 dan 9 Agustus 1945, membuat pemuda tidak percaya pada janji kemerdekaan pemerintah kolonial Jepang.

Tak salah jika Richard Robinson kemudian mengkategorikan kaum muda sebagai bagian dari kelas menengah sosial, yakni mereka yang datang dari kelas intelektual dengan pengetahuan yang mapan. Robinson menggunakan indikator intelektual untuk membedakannya dengan kelas menengah yang lain. Kaum muda adalah komunitas yang berpendidikan tinggi dan tercerahkan secara ilmu pengetahuan. Kaum muda adalah sosok yang berpikir kritis dan revolusioner dalam bertindak. Kaum muda punya nasionalisme kebangsaan yang tinggi.

Sayangnya, ciri-ciri unik kaum muda itu kini mulai sirna perlahan-lahan. Kaum muda kurang menampilkan karakter intelektual yang netral, nasionalisme yang menggebu-gebu, malah justru terjebak dalam pragmatisme dan hedonisme. Sehingga kaum muda kemudian ditengarai mengalami krisis nasionalisme. Terjadi pergeseran orientasi nilai kaum muda. Kaum muda sudah kurang menghayati nilai-nilai kepahlawanan.

Nasionalisme kaum muda mengalami erosi yang luar biasa. Berapa banyak kaum muda yang tahu bahwa 10 November adalah Hari Pahlawan? Kalaupun ada yang tahu, berapa banyak yang bisa memaknai Hari Pahlawan tersebut? Pasti tidak banyak. Karena nasionalisme kaum muda sudah terasa menjadi sesuatu yang "banal", sesuatu yang mengalami pendangkalan makna. Seolah-olah, bagi kaum muda masa kini, nasionalisme bukan sesuatu yang penting lagi. Nasionalisme hanya milik tentara. Nasionalisme hanya urusan upacara bendera. Betulkah demikian?

Kita harus meninggalkan cara pandang Ernest Renan bahwa nasionalisme bukan lagi sekadar kehendak untuk bersatu (le desir d'etre ensemble) sebagai sebuah negara-bangsa. Sejatinya, nasionalisme yang utuh adalah ide dan cita-cita tentang sebuah masa depan: bagaimana karakter sebuah bangsa yang merdeka kukuh di tengah arus globalisasi. Karena itu, nasionalisme lama harus direkonstruksi menjadi nasionalisme baru yang berpijak pada tantangan-tantangan kebangsaan yang makin kompleks. Menurut saya, nasionalisme baru kaum muda adalah nasionalisme original yang tidak dibangun dari atas lalu meluncur ke bawah yang oleh sejarawan Charles Tilly, disebut sebagai state-led nationalism (dalam
buku States and Nationalism in Europe 1492-1992, 1994). Sebab, nasionalisme kaum muda adalah nasionalisme yang tidak dibentuk oleh rezim, melainkan sesuatu yang muncul secara alamiah.

Karena
Indonesia sebagai "proyek bersama" belum selesai, tugas kaum muda kemudian adalah memastikan jalan baru agar keindonesiaan tidak mati. Keindonesiaan penting untuk dirumuskan kembali lewat rekonstruksi nasionalisme yang lebih kontekstual. Bagaimana nasionalisme baru kaum muda hadir dalam semangat untuk melawan empat permasalahan pokok yang saya sebut 4K: kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan ketidakadilan. Karena itu, civic nationalism atau nasionalisme kewargaan harus menjadi agenda utama kaum muda masa kini. Karena civic nationalism adalah antitesis terhadap nasionalisme berbasiskan etnis.

Nasionalisme yang civic mampu menempatkan segenap elemen bangsa melampaui batas agama, ras, dan suku sebagai komunitas setara. Nasionalisme ini secara inheren berciri demokratis karena dibangun beralaskan prinsip kedaulatan rakyat. Nasionalisme yang civic juga menjadi semacam etik dalam ranah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kenapa nasionalisme baru kaum muda ini penting? Sesungguhnya, rekonstruksi nasionalisme kaum muda punya dasar logika yang kuat. Bahwa tantangan kebangsaan yang kita hadapi sekarang ini telah bergeser dari isu-isu lama ke isu-isu kontemporer yang membutuhkan nilai-nilai baru yang dikonstruksikan sesuai dengan tantangan zaman. Tantangan yang harus diatasi oleh kaum muda hari ini adalah membuat
Indonesia berdaulat. Berdaulat atas tanah, air, dan segala yang terkandung di dalamnya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Kedaulatan tak akan berarti jika kesejahteraan hanya menjadi pepesan kosong, sekadar retorika politik yang manis dan bual. Kedaulatan juga tak akan bermakna manakala harkat dan martabat bangsa sering diinjak-injak bangsa lain.

Karena itu, yang penting sekarang bagi kaum muda adalah bukan sekadar merebut kekuasaan dari kaum tua, melainkan apa manifesto kaum muda masa kini. Semangat kepemimpinan kaum muda yang tidak disokong oleh nilai-nilai kebangsaan yang tinggi hanya akan membuat kaum muda tak ada bedanya dengan kaum tua: sekadar mencari kekuasaan. Kaum muda bisa dicap besar nafsu ketimbang ide. Besar semangat ketimbang kerja. Untuk itu, kaum muda harus bangkit. Nasionalisme baru kaum muda harus digelorakan agar bangsa ini bisa bangkit dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Nasionalisme baru kaum muda adalah lawan 4K: kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan ketidakadilan.

Dr Yuddy Chrisnandi, Koordinator Koalisi Muda Parlemen
Indonesia (DPR RI), Pengurus Pusat Partai Golkar

Senin, 21 Januari 2008

REFLEKSI TAHUN BARU 1 MUHARRAM 1429 H

Pada 10 Januari lalu, umat muslim di seluruh penjuru dunia, tak terkecuali di Indonesia melakukan pergantian tahun baru Islam, yakni 1 Muharram 1429 H. Pergantian tahun baru hijriah ini hanya berselang satu pekan dari pergantian tahun baru masehi, 1 Januari 2008. Namun, kita sebagai umat muslim tidak menyambut dan merayakan pergantian tahun hijriah semeriah dan seheboh ketika menyambut dan merayakan tahun baru masehi. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa umat muslim di negeri ini mulai anak-anak, remaja, hingga orang dewasa atau orang tua menyambut pergantian tahun baru masehi begitu antusias dan gembira.

Pada saat menyambut pergantian tahun masehi kita pergi ramai-ramai ke suatu tempat tertentu untuk merayakan datangnya tahun baru dengan beraneka macam acara dan aktifitas. Kita rela menghabiskan sejumlah uang dalam beberapa jam saja hanya untuk bersenang-senang dan berfoya-foya pada saat pergantian tahun ini. Selain uang kita juga menghabiskan banyak waktu dan tenaga yang seharusnya digunakan untuk istirahat dan mengerjakan hal-hal positif. Kita rela begadang semalaman hingga pagi hari hanya untuk meniupkan terompet dan menyalakan kembang api tahun baru. Begitu riang dan meriahnya kita merayakan tahun baru masehi. Lantas bagaimana kita menyambut datangnya tahun baru hijriah yang notabene sebagai tahun kita sendiri, apakah kita melakukan hal sama ketika menyambut pergantian tahun hijriah?

Jawaban pertanyaan diatas tentu tidak sama. Dalam menyambut datangnya tahun baru 1 Muharram kita tidak banyak melakukan aktifitas sebagaimana yang dilakukan ketika menyambut datangnya tahun masehi. Pesta kembang api yang dibarengi tiupan terompet tidak terdengar ketika tahun baru Islam datang. Bahkan diantara kita ada yang beranggapan tahun baru Islam tidak berkesan, menarik dan lainnya. Tapi yang lebih menyakitkan adalah kita acuh tak acuh terhadap datangnya tahun baru Islam ini. Padahal kita adalah umat muslim yang seyogyanya dapat menyambut pergantian tahun ini dengan rasa gembira dan bersyukur.

Mungkin harus dapat dimaklumi kenapa kita tidak gembira dan antusias menyambut tahun baru hijriah ini, karena negera kita tidak menggunakan kalender hijriah, tapi menggunakan kalender masehi. Tanggal, bulan, dan tahun lahir, penentuan jadwal masuk kerja, dan lainnya semuanya menggunakan kalender masehi. Bahkan penentuan peringatan hari besar Islam, seperti bulan ramadhan, idul fitri dan idul adha dan sebagainya pun memakai kalender masehi. Meskipun Negara kita tidak menggunakan kalender hijriah dalam penentuan waktu, tapi selaku muslim kita patut memperhatikan kalender hijriah dalam keseharian. Sebab bagaimana pun hijriah adalah milik kita.

Sebagai seorang muslim hendaknya kita bahagia dengan datangnya 1 Muharram ini. Sebab Muharram merupakan bulan yang mempunyai beberapa pesan atau keutamaan didalamnya, seperti mengenang hijrah nabi Muhammad SAW. Selain itu Muharram disebut juga bulan haram dan bulan Allah. Ketika bulan Muharram tiba umat muslim disunnahkan berpuasa pada tanggal 10 Assyura.

Kita berharap semoga kalender hijriah tidak diabaikan hanya karena negera kita menggunakan kalender masehi. Sebab jika bukan kita yang menggunakannya, terus siapa yang akan memakainya? Selamat tahun baru Islam 1 Muharram 1429 H.

Minggu, 04 November 2007

SYARAT EVALUATOR DAN JENIS EVALUASI

SYARAT MENJADI EVALUATOR SEBAGAI BERIKUT:
1. Mampu melaksanakan, adalah bahwa mereka harus memiliki kemampuan untuk melaksanakan evaluasi yang didukung oleh teori dan keterampilan praktik.
2. Cermat, adalah mereka dapat melihat celah-celah dan detail dari program serta bagian program yang akan dievaluasi.
3. Objektif, adalah mereka tidak mudah dipengaruhi oleh keinginan pribadi, agar dapat mengumpulkan data sesuai dengan keadaannya, selanjutnya dapat mengambil kesimpulan sebagaimana diatur oleh ketentuan yang harus diikuti.
4. Sabar dan objektif, adalah agar di dalam melaksanakan tugas dimulai dari membuat rancangan kegiatan dalam bentuk menyusun proposal, menyusun instrument, mengumpulkan data, dan menyusun laporan, tidak gegabah dan tergesa-gesa.
5. Hati-hati dan bertanggung jawab, adalah melakukan pekerjaan evaluasi dengan penuh pertimbangan, namun apabila masih ada kekeliruan yang diperbuat, berani menanggung risiko atas segala kesalahannya.

Ada dua kemungkinan asal (dari mana) orang untuk dapat menjadi evaluator program ditinjau dari program yang akan dievaluasi. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Menentukan asal evaluator harus mempertimbangkan keterkaitan orang yang bersangkutan dengan program yang akan dievaluasi. Berdasarkan pertimbangan tersebut evaluator dapat dikalsifikasikan menjadi dua macam, yaitu evaluator dalam (internal evaluator) dan evaluasi luar (eksternal evaluator).
Internal Evaluator adalah petugas evaluasi program yang sekaligus merupakan salah seorang dari petugas atau anggota pelaksana program yang dievaluasi. Adapun kelebihan dan kekurangan dari internal evaluator yaitu:
Kelebihan:
Pertama, Evaluator memahami betul program yang dievaluasi sehingga kekhawatiran untuk tidak atau kurang tepatnya sasaran tidak perlu ada. Dengan kata lain evaluasi tepat pada sasaran. Kedua, Karena evaluator aalah orang dalam, pengambil keputusan tidak perlu banyak mengeluarkan dana untuk membayar petugas evaluasi.
Kekurangan:
Pertama, Adanya unsure sebjektifitas dari evaluator, sehingga berusaha menyampaikan aspek positif dari program yang dievaluasi dan menginginkan agar kebijakan tersebut dapat diimplementasikan dengan baik pula. Dengan kata lain, evaluator internal dapat dikhawatirkan akan bertindak subjektif. Kedua, Karena sudah memahami seluk beluk program, jika evaluator yang ditunjuk kurang sabar, kegiatan evaluasi akan dilaksanakan dengan tergesa-gesa sehinga kurang cermat.
Eksternal Evaluator adalah orang-orang yang tidak terkait dengan kebijakan dan implementasi program. Mereka berada di luar dan diminta oleh pengambil keputusan untuk mengevaluasi keberhasilan program atau berada di luar program dan dapat bertindak bebas sesuai dengan keinginan mereka sendiri, maka tim evaluator luar ini biasa dikenal dengan nama tim bebas atau independent team.
Kelebihan:
Pertama, Oleh karena tidak berkepentingan atas keberhasilan program maka evaluator luar dapat bertindak secara objektif selama melaksanakan evaluasi dan mengambil kesimpulan. Apa pun hasil evaluasi, tidak akan ada respons emosional dari evaluator karena tidak ada kepentingan untuk memperlihatkan bahwa program tersebut berhasil. Kesimpulan yang dibuat akan lebih sesuai dengan kenyataan dan keadaan. Kedua, Seorang ahli yang dibayar biasanya akan memprtahankan kredibibilitas kemampuannya. Dengan begitu, evaluator akan bekerja secara serius dan hati-hati.
Kekurangan:
Pertama, Evaluator luar adalah orang baru yang sebelumnya tidak mengenal kebijakan tentang program yang akan dievaluasi. Mereka berusaha mengenal dn mempelajari seluk-beluk program tersebut setelah mendapat permintaan untuk mengevaluasi. Kedua, Pemborosan, pengambil keputusan harus mengeluarkan dana yang cukup banyak untuk membayar evaluator bebas.
Untuk menghasilkan evaluasi yang baik, maka petugas evaluasi harus berasal dari dalam dan luar program, yaitu gabungan antara orang-orang di dalam program digabung dengan orang-orang dari luar. Sedangkan perbedaan menonjol antara evaluator luar dengan evaluator dalam adalah adanya salah satu langkah penting sebelum mereka mulai melaksanakan tugas. Oleh karena evaluator luar adalah pihak asing yang tidak-tahu menahu dan tidak berkepantingan dengan program, yang diasumsikan belum memahami seluk-beluk program maka terlebih dahulu tim tersebut perlu mempelajari program yang akan dievaluasi.

Selasa, 02 Oktober 2007

JENIS-JENIS VALIDITAS

Validitas atau kesahihan menunjukan pada kemampuan suatu instrumen (alat pengukur) mengukur apa yang harus diukur (…. a valid measure if it succesfully measure the phenomenon), seseorang yang ingin mengukur tinggi harus memakai meteran, mengukur berat dengan timbangan, meteran, timbangan merupakan alat ukur yang valid dalah kasus tersebut. Dalam suatu penelitian yang melibatkan variabel/konsep yang tidak bisa diukur secara langsung, maslah validitas menjadi tidak sederhana, di dalamnya juga menyangkut penjabaran konsep dari tingkat teoritis sampai tingkat empiris (indikator), namun bagaimanapun tidak sederhananya suatu instrumen penelitian harus valid agar hasilnya dapat dipercaya.Mengingat pentingnya masalah validitas. Maka tidak mengherankan apabila Para Pakar telah banyak berupaya untuk mengkaji masalah validitas serta membagi validitas ke dalam beberapa jenis, terdapat perbedaan pengelompokan jenis-jenis validitas, Elazar Pedhazur menyatakan bahwa validitas yang umum dipakai tripartite classification yakni Content, Criterion dan Construct, sementara Kenneth Bailey mengelompokan tiga jenis utama validitas yaitu : Face validity, Criterion Validity, dan construct validity, dengan catatan face validity cenderung dianggap sama dengan content validity. Berikut ini akan dikemukakan beberapa jenis validitas yaitu :Validitas Rupa (Face validity). Adalah validitas yang menunjukan apakah alat pengukur/instrumen penelitian dari segi rupanya nampak mengukur apa yang ingin diukur, validitas ini lebih mengacu pada bentuk dan penampilan instrumen. Menurut Djamaludin Ancok validitas rupa amat penting dalam pengukuran kemampuan individu seperti pengukuran kejujuran, kecerdasan, bakat dan keterampilan.Validitas isi (Content Validity). Valditas isi berkaitan dengan kemampuan suatu instrumen mengukur isi (konsep) yang harus diukur. Ini berarti bahwa suatu alat ukur mampu mengungkap isi suatu konsep atau variabel yang hendak diukur. Misalnya test bidang studi IPS, harus mampu mengungkap isi bidang studi tersebut, pengukuran motivasi harus mampu mengukur seluruh aspek yang berkaitan dengan konsep motivasi, dan demikian juga untuk hal-hal lainnya. Menurut Kenneth Hopkin penentuan validitas isi terutama berkaitan dengan proses analisis logis, dengan dasar ini Dia berpendapat bahwa validitas isi berbeda dengan validitas rupa yang kurang menggunakan analisis logis yang sistematis, lebih lanjut dia menyatakan bahwa sebuah instrumen yang punya validitas isi biasanya juga mempunyai validitas rupa, sedang keadaan sebaliknya belum tentu benar. Validitas kriteria (Criterion validity). Adalah validasi suatu instrumen dengan membandingkannya dengan instrumen-pengukuran lainnya yang sudah valid dan reliabel dengan cara mengkorelasikannya, bila korelasinya signifikan maka instrumen tersebut mempunyai validitas kriteria. Terdapat dua bentuk Validitas kriteria yaitu : Validitas konkuren (Concurrent validity), Validitas ramalan (Predictive validity). Validitas konkuren adalah kemampuan suatu instrumen pengukuran untuk mengukur gejala tertentu pada saat sekarang kemudian dibandingkan dengan instrumen pengukuran lain untuk konstruk yang sama. Validitas ramalan adalah kemampuan suatu instrumen pengukuran memprediksi secara tepat dengan apa yang akan terjadi di masa datang. Contohnya apakah test masuk sekolah mempunyai validitas ramalan atau tidak ditentukan oleh kenyataan apakah terdapat korelasi yang signifikan antara hasil test masuk dengan prestasi belajar sesudah menjadi siswa, bila ada, berarti test tersebut mempunyai validitas ramalan.Validitas konstruk (Construct Validity). Konstruk adalah kerangka dari suatu konsep, validitas konstruk adalah validitas yang berkaitan dengan kesanggupan suatu alat ukur dalam mengukur pengertian suatu konsep yang diukurnya. Menurut Jack R. Fraenkel validasi konstruk (penentuan validitas konstruk) merupakan yang terluas cakupannya dibanding dengan validasi lainnya, karena melibatkan banyak prosedur termasuk validasi isi dan validasi kriteria.
Jenis-jenis validitas lainnya adalah validitas permukaan (face validity), validitas kriteria (criterion validity), dan validitas konstruk (construct validity).