Minggu, 11 Mei 2008

3 Pengurus Partai Islam Tepis Tren Penuruan

Penulis: Akhwani Subkhi

Student Center
, UINJKT Online - Tiga partai yang berazaskan Islam menepis hasil survey Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang menyatakan trend partai Islam menurun. Ketiga partai tersebut adalah Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Pernyataan itu disampaikan perwakilan dari ketiga partai ketika menjadi narasumber acara talkshow bertajuk Kancah Politik Partai Islam Menuju Pemilu 2009, di Aula Student Center, Senin, (21/4) malam. Acara talkshow ini merupakan rangkaian acara UIN Book Fair 2008 yang diselenggarakan oleh beberapa Badan Eksekutif Mahasiswa dari Partai Intelektual Muslim (PIM).

Wakil Sekretaris Jenderal PBB Sabar Sitanggang membantah keras hasil survei LSI tersebut. "Trend partai Islam menurun itu salah dan ini jelas-jelas menyesatkan," ungkap Sabar dengan tegas. Pernyataan Sabar itu didukung Ketua Bidang Humas DPP PKS Ahmad Mabruri yang mengatakan hasil survei LSI salah ada benarnya.

"Pada 2004 hasil survei LSI menyatakan PKS tidak akan lolos electoral treshold, tapi kenyataanya PKS lolos," papar Mabruri. Sementara itu Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP Sihabudin Nur mengungkapkan hasil penelitian LSI ok-ok saja karena telah menggunakan metodologi. "Namun, LSI hanya memaparkan hasilnya saja tapi tidak mempublikasikan misalnya variabel dan indikator penelitian yang digunakan," ungkapnya.

Selain menolak hasil survei, ketiga partai itu juga menepis pernyataan yang mengatakan partai yang menggunakan ideologi Islam mulai mencair. Menurut Mabruri ideologi Islam mulai mencair itu tidak ada dan tidak benar. Sedangkan menurut Sihabudin istilah cair tidak cair ideologi Islam itu hanya konstruksi pers saja. "Saya tidak percaya dengan hal itu," tegasnya.

Namun sayangnya, dalam kesempatan tersebut, pihak LSI tidak diundang. Sehingga, sejumlah peserta menganggap acara tersebut tidak fair.

Selasa, 06 Mei 2008

Kunci Utama Menuju Pelaminan
Penulis Akhwani Subkhi

Student Center, UINJKT Online - Kunci terpenting bagi seseorang yang ingin menempuh jenjang pernikahan atau pelaminan adalah kesiapan lahir dan bathin, serta mempunyai penghasilan untuk dijadikan nafkah hidup. Demikian kesimpulan acara Bedah Buku berjudul "Aisyah dan Maisyah" yang digelar dalam rangkaian UIN Book Fair (UBF) yang digelar atas kerja sama antar BEM Fakultas dan Jurusan UIN Jakarta di Student Center, Sabtu (26/4).

Menurut penulis buku Ahmad Gozali, laki-laki maupun perempuan tidak perlu takut untuk menikah, walaupun masih muda asalkan memiliki penghasilan yang cukup. "Untuk menuju jenjang pernikahan tidak mesti harus sudah mapan. Sebab kunci utama nikah adalah sudah siap dan punya nafkah," papar Gozali.

Lebih lanjut dia menjelaskan di masyarakat ada kesalahan dalam menempatkan prioritas sebelum menikah, misalnya, seberapa banyak dana yang harus disiapkan untuk prosesi/resepsi pernikahan. Tapi, menurut dia, seharusnya yang menjadi prioritas adalah seberapa siap seseorang untuk menanggung nafkah setelah menikah nanti. "Bukan dana sebelum nikah, tapi nafkah setelah nikah," jelasnya.

Menurut Gozali, sapaan akrab beliau, setiap laki-laki dan perempuan yang ingin menikah harus mempunyai persiapan. Persiapan tersebut di antaranya bagi laki-laki harus bersyukur dengan apa yang ada/didapat sekarang. Selain itu, dia juga harus bisa memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri dan harus dinamis untuk bisa menambah nafkah atau penghasilan.

"Sementara itu, bagi kaum hawa perlu menyiapkan diri untuk mengelola keuangan sendiri karena ketika menikah dia akan menjadi menteri keuangan rumah tangga," ungkapnya. Selain itu, tambah dia, perempuan harus siap untuk hidup mulai dari awal atau nol.

Menurut penulis sebelum menikah tepatnya ketika perkenalan/ta'aruf perlu adanya pembicaraan atau keterbukaan terkait jumlah penghasilan masing-masing. "Ini penting karena sensitif dan agar tidak ada rasa kecewa dengan nafkah yang diberikan," jelasnya. Dia menghimbau kepada siapa pun agar tidak membatasi diri untuk menerima rizki dengan mematok target usia menikah harus sekian dan menunggu ini dan itu.

"Nikah adalah rizki, maka kita jangan membatasi diri harus menikah di usia sekian dan nunggu ini-itu. Kalau ada yang sudah siap ya laksanakan saja," himbaunya. Dia juga memaparkan tanggung jawab keuangan dalam rumah tangga. Suami dan istri mempunyai tanggung jawab sama yaitu memberi nafkah sesuai kemampuannya. Namun, apabila istri tidak mempunyai penghasilan, menurut dia tidak usah khawatir.

Senin, 05 Mei 2008

Prof Dr Arief Rahman

Tujuan Pendidikan Nasional Belum Tercapai Secara Menyeluruh

Pada bulan Mei tahun ini, ada dua kegiatan besar dalam dunia pendidikan nasional. Pertama, peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei kemarin dan kedua, pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMP atau Sederajat yang jatuh pada 5-9 Mei ini. Bagaimana pendapat salah satu tokoh pendidikan nasional Prof Dr Arief Rahman memandang kedua kegiatan besar tersebut. Berikut petikan wawancara Akhwani Subkhi dari UINJKT Online dengan Prof Arief seusai menjadi pembicara Seminar Nasional bertema ”Menuju Pendidikan yang Mandiri dan Bermartabat Di Tengah Tuntutan Globalisasi” di UIN Jakarta, pada (4/5).

Menurut Anda makna hari pendidikan nasional sendiri seperti apa?

Hardiknas namanya peringatan, jadi ia harus mengingatkan kita kepada tujuan pendidikan itu apa, jadi itu yang harus dicapai. Dan menurut saya pendidikan tujuannya belum tercapai secara menyeluruh.

Maksudnya belum tercapai secara menyeluruh?

Sekarang kan Ujian Nasional baru pada mata pelajaran tertentu saja, akhlak mulia belum, budi pekerti belum, dan demokratis belum. Itu semua harus disapa dengan baik ya,! itu menurut saya. Jadi, kita harus bisa memenuhi persyaratan kognitif, afektif, dan psikomotor. Potensi yang harus dikembangkan adalah potensi spiritual, potensi emosional, potensi sosial, potensi intelektual, dan potensi jasmani.

Menurut Anda pelaksanaan Ujian Nasional sendiri harusnya seperti apa?

Pelaksanaan Ujian Nasional menururt saya yang dilakukan sekarang ini bukan UN, tapi pemetaan. Kalau ujian harus dibuat sebuah rumus yang memperhitungkan kekuatan daerah itu masing-masing.

Bagaimana Anda melihat kondisi pendidikan nasional secara umum?

Kalau undang-undang dengan itu sudah bagus. Undang-undang dengan standar-standar yang ada sudah bagus, tapi yang tidak baik adalah pelaksanaan di lapangan. Pelaksanaan di lapangan kan banyak kecurangan, banyak yang asal jalan, dan banyak yang belum mencapai tujuan.

Lalu solusi agar pendidikan nasional lebih baik?

Semuanya harus turun tangan, semua harus memperbaiki diri bersama-sama.

KMSGD, Nasibmu Kini!

Refleksi pribadi seorang kader

Oleh Akhwani Subkhi*

Miris dan ironis. Mungkin dua kata itulah yang akan keluar dari mulut kita apabila melihat keadaan KMSGD sekarang. Sebuah organisasi yang sudah berdiri lebih dari empat dasa warsa ini, kini dalam keadaan vacum. Dengan kata lain, keadaanya walayahya walayamuut. Prihatin memang. Sudah empat bulan terhitung mulai akhir Januari lalu hingga kini nyaris tidak ada kegiatan yang digelar satu pun. Padahal, konferensi kemarin sudah jelas hanya mengamanatkan pelaksanaan Kongres Luar Biasa (KLB) ansich. Tapi nyatanya, sampai detik ini KLB belum jua dilaksanakan. Pertanyaannya, ngapain aja selama ini? Alasan klise yang muncul adalah masih menunggu perbaikan anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah tangga (ART) KMSGD dari tim revisi. Sampai kapan harus menunggu coy?

Perlu diingat bahwa revisi AD dan ART ini sudah berjalan sekitar satu semester, tapi hasilnya hingga kini nihil. Tanya kenapa? Seyogyanya Sugawan yang terpilih dalam konferensi lalu bisa menjemput bola, bukan sebaliknya. Artinya, dia harus kreatif bagaimana caranya agar draft revisi AD/ART bisa selesai dan KLB bisa terlaksana secepatnya. Karena konferensi mengamanatkan pelaksanaan KLB selambat-lambatnya pada Maret lalu. Berarti amanat konferensi kemarin dikhianati dan tidak ada gunanya. Agar revisi ini bisa cepat selesai dia harus hiperaktif berkomunikasi dengan tim revisi supaya menyelesaikan tugasnya. Jika toh tim masih tidak bisa kerja cepat, dia bisa mengambil alihnya dan membentuk tim baru untuk merevisi AD/ART. Tentunya mereka adalah kader yang lebih progres, cepat, dan punya waktu luang banyak.

Memang keadaan KMSGD sekarang sedang dalam masa transisi. Pasalnya, status organisasi ini akan diubah yang dulunya KMSGD Cabang Ciputat menjadi KMSGD Jakarta Raya. Hebat euy! Tapi kapan perubahan status organisasinya? Akibat tak kunjung selesai perubahan status ini maka KMSGD pun sepi dari kegiatan yang biasanya dilaksanakan. KMSGD seharusnya malu dengan organisasi disekitarnya yang sudah mengadakan kegiatan.

KMSGD adalah organisasi yang hebat karena sudah memiliki dua asrama yang megah dan kokoh, ditambah senior-senior yang hebat pula. Tapi kehebatan tersebut tidak ada artinya karena hanya sebagai tempat konkow-konkow alias tempat numpang tidur belaka. KMSGD sepi dari kegiatan. Prihatin juga ya! Akan tetapi, ada hal lain yang mungkin menjadi keprihatinan kita yaitu konon loyalitas anggota organisasi (terutama penghuni asrama, baik putra maupun putri) dipertanyakan dan mulai semakin mencair. Sugawan-sugawati cenderung mengucilkan bahkan acuh atak acuh dengan KMSGD. Sebaliknya, Sugawan-sugawati lebih memilih untuk membesarkan organisasi atau komunitas lain. Mungkin fenomena seperti itu yang paling memprihatinkan.

Sebenarnya, fenomena tersebut bisa dicegah apabila nahkoda sekarang piawai dalam mengemudikan kapalnya (organisasi-red). Tapi sayangnya, nahkoda kita tidak piawai sehingga kapal yang sedang kita naiki sekarang dalam keadaan oleng tidak menuntut kemungkinan cepat atau lambat akan tenggelam alias wassalam. Jangan sampai dech!. Perlu dicatat, organisasi KMSGD merupakan organisasi yang sudah tua dan dikenal sejak lama serta memiliki nilai historis cukup panjang. Jadi, malu apabila tiba-tiba KMSGD bubar begitu saja. Mari kita lestarikan apa yang sudah dilakukan dan diberikan para lelulur atau senior kita dahulu. Walahualambishowab. []




* Akhwani Subkhi, Anggota KMSGD dan Mantan Ketua Umum HIMA-CITA

Selasa, 29 Januari 2008

Dr Yuddy Chrisnandi

Rekonstruksi Nasionalisme Kaum Muda
Jum'at, 16 November 2007 | 16:54 WIB

Di Koran Tempo beberapa waktu lalu, saya menulis tentang kepemimpinan kaum muda yang ternyata mendapat sambutan cukup bagus dari banyak pihak. Saya mendapat banyak pesan singkat yang intinya mendukung artikel saya berjudul Menggagas Kepemimpinan Kaum Muda (Koran Tempo, 30 Oktober 2007). Gerakan "Saatnya Kaum Muda Memimpin", yang dipelopori Sukardi Rinakit, dan gerakan "Bangkit Indonesia", yang digagas Rizal Ramli, juga mengkampanyekan tema yang sama: kebangkitan kaum muda.

Di tengah wacana kepemimpinan kaum muda, seorang teman diskusi dari Universitas Indonesia, Abdul Gafur Sangadji, dalam artikelnya "Prospek Kepemimpinan Kaum Muda" (Koran Tempo, 3 November) mengulas dengan bagus beberapa faktor yang bisa menghalangi tampilnya kaum muda di panggung politik 2009. Saya kira benar bahwa wacana kepemimpinan kaum muda belum banyak direspons oleh partai politik, sehingga bisa saja wacana ini sekadar basa-basi politik di tahun ini. Tentu saja ini tidak kita inginkan. Kaum muda harus terus didorong untuk berani tampil.

Karena itu, tema kaum muda masih sangat relevan untuk didiskusikan dalam pergulatan politik sehari-hari. Sejarah tidak akan menenggelamkan kaum muda yang kehadirannya dalam pandangan Taufik Abdullah bukan semata-mata gejala demografis, tapi juga fakta sosiologis dan historis. Ia memandang kelahiran kaum muda tidak hanya mengisi sebuah episode generasi baru, mengganti generasi tua, tapi lebih dari itu ia merupakan subyek potensial yang menjanjikan. Kaum muda berpotensi mendorong agenda perubahan dalam masyarakat sekalipun berada dalam kungkungan rezim penjajah. Kenapa?

Ada hal fundamental yang membedakan kamu muda dari kaum tua. Kaum muda selalu melawan, sementara kaum tua senantiasa berkompromi. Peristiwa Rengasdengklok saat Soekarno-Hatta diculik kaum muda dan mendesakkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah satu bukti sejarah yang sulit dibantah betapa kaum muda tidak tunduk pada "kompromi". Kaum muda memaksa Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan atas nama bangsa Indonesia. Jepang, yang sudah dilumpuhkan oleh tentara Sekutu dalam Perang Dunia II setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom atom pada 6 dan 9 Agustus 1945, membuat pemuda tidak percaya pada janji kemerdekaan pemerintah kolonial Jepang.

Tak salah jika Richard Robinson kemudian mengkategorikan kaum muda sebagai bagian dari kelas menengah sosial, yakni mereka yang datang dari kelas intelektual dengan pengetahuan yang mapan. Robinson menggunakan indikator intelektual untuk membedakannya dengan kelas menengah yang lain. Kaum muda adalah komunitas yang berpendidikan tinggi dan tercerahkan secara ilmu pengetahuan. Kaum muda adalah sosok yang berpikir kritis dan revolusioner dalam bertindak. Kaum muda punya nasionalisme kebangsaan yang tinggi.

Sayangnya, ciri-ciri unik kaum muda itu kini mulai sirna perlahan-lahan. Kaum muda kurang menampilkan karakter intelektual yang netral, nasionalisme yang menggebu-gebu, malah justru terjebak dalam pragmatisme dan hedonisme. Sehingga kaum muda kemudian ditengarai mengalami krisis nasionalisme. Terjadi pergeseran orientasi nilai kaum muda. Kaum muda sudah kurang menghayati nilai-nilai kepahlawanan.

Nasionalisme kaum muda mengalami erosi yang luar biasa. Berapa banyak kaum muda yang tahu bahwa 10 November adalah Hari Pahlawan? Kalaupun ada yang tahu, berapa banyak yang bisa memaknai Hari Pahlawan tersebut? Pasti tidak banyak. Karena nasionalisme kaum muda sudah terasa menjadi sesuatu yang "banal", sesuatu yang mengalami pendangkalan makna. Seolah-olah, bagi kaum muda masa kini, nasionalisme bukan sesuatu yang penting lagi. Nasionalisme hanya milik tentara. Nasionalisme hanya urusan upacara bendera. Betulkah demikian?

Kita harus meninggalkan cara pandang Ernest Renan bahwa nasionalisme bukan lagi sekadar kehendak untuk bersatu (le desir d'etre ensemble) sebagai sebuah negara-bangsa. Sejatinya, nasionalisme yang utuh adalah ide dan cita-cita tentang sebuah masa depan: bagaimana karakter sebuah bangsa yang merdeka kukuh di tengah arus globalisasi. Karena itu, nasionalisme lama harus direkonstruksi menjadi nasionalisme baru yang berpijak pada tantangan-tantangan kebangsaan yang makin kompleks. Menurut saya, nasionalisme baru kaum muda adalah nasionalisme original yang tidak dibangun dari atas lalu meluncur ke bawah yang oleh sejarawan Charles Tilly, disebut sebagai state-led nationalism (dalam
buku States and Nationalism in Europe 1492-1992, 1994). Sebab, nasionalisme kaum muda adalah nasionalisme yang tidak dibentuk oleh rezim, melainkan sesuatu yang muncul secara alamiah.

Karena
Indonesia sebagai "proyek bersama" belum selesai, tugas kaum muda kemudian adalah memastikan jalan baru agar keindonesiaan tidak mati. Keindonesiaan penting untuk dirumuskan kembali lewat rekonstruksi nasionalisme yang lebih kontekstual. Bagaimana nasionalisme baru kaum muda hadir dalam semangat untuk melawan empat permasalahan pokok yang saya sebut 4K: kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan ketidakadilan. Karena itu, civic nationalism atau nasionalisme kewargaan harus menjadi agenda utama kaum muda masa kini. Karena civic nationalism adalah antitesis terhadap nasionalisme berbasiskan etnis.

Nasionalisme yang civic mampu menempatkan segenap elemen bangsa melampaui batas agama, ras, dan suku sebagai komunitas setara. Nasionalisme ini secara inheren berciri demokratis karena dibangun beralaskan prinsip kedaulatan rakyat. Nasionalisme yang civic juga menjadi semacam etik dalam ranah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kenapa nasionalisme baru kaum muda ini penting? Sesungguhnya, rekonstruksi nasionalisme kaum muda punya dasar logika yang kuat. Bahwa tantangan kebangsaan yang kita hadapi sekarang ini telah bergeser dari isu-isu lama ke isu-isu kontemporer yang membutuhkan nilai-nilai baru yang dikonstruksikan sesuai dengan tantangan zaman. Tantangan yang harus diatasi oleh kaum muda hari ini adalah membuat
Indonesia berdaulat. Berdaulat atas tanah, air, dan segala yang terkandung di dalamnya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Kedaulatan tak akan berarti jika kesejahteraan hanya menjadi pepesan kosong, sekadar retorika politik yang manis dan bual. Kedaulatan juga tak akan bermakna manakala harkat dan martabat bangsa sering diinjak-injak bangsa lain.

Karena itu, yang penting sekarang bagi kaum muda adalah bukan sekadar merebut kekuasaan dari kaum tua, melainkan apa manifesto kaum muda masa kini. Semangat kepemimpinan kaum muda yang tidak disokong oleh nilai-nilai kebangsaan yang tinggi hanya akan membuat kaum muda tak ada bedanya dengan kaum tua: sekadar mencari kekuasaan. Kaum muda bisa dicap besar nafsu ketimbang ide. Besar semangat ketimbang kerja. Untuk itu, kaum muda harus bangkit. Nasionalisme baru kaum muda harus digelorakan agar bangsa ini bisa bangkit dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Nasionalisme baru kaum muda adalah lawan 4K: kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan ketidakadilan.

Dr Yuddy Chrisnandi, Koordinator Koalisi Muda Parlemen
Indonesia (DPR RI), Pengurus Pusat Partai Golkar

Senin, 21 Januari 2008

REFLEKSI TAHUN BARU 1 MUHARRAM 1429 H

Pada 10 Januari lalu, umat muslim di seluruh penjuru dunia, tak terkecuali di Indonesia melakukan pergantian tahun baru Islam, yakni 1 Muharram 1429 H. Pergantian tahun baru hijriah ini hanya berselang satu pekan dari pergantian tahun baru masehi, 1 Januari 2008. Namun, kita sebagai umat muslim tidak menyambut dan merayakan pergantian tahun hijriah semeriah dan seheboh ketika menyambut dan merayakan tahun baru masehi. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa umat muslim di negeri ini mulai anak-anak, remaja, hingga orang dewasa atau orang tua menyambut pergantian tahun baru masehi begitu antusias dan gembira.

Pada saat menyambut pergantian tahun masehi kita pergi ramai-ramai ke suatu tempat tertentu untuk merayakan datangnya tahun baru dengan beraneka macam acara dan aktifitas. Kita rela menghabiskan sejumlah uang dalam beberapa jam saja hanya untuk bersenang-senang dan berfoya-foya pada saat pergantian tahun ini. Selain uang kita juga menghabiskan banyak waktu dan tenaga yang seharusnya digunakan untuk istirahat dan mengerjakan hal-hal positif. Kita rela begadang semalaman hingga pagi hari hanya untuk meniupkan terompet dan menyalakan kembang api tahun baru. Begitu riang dan meriahnya kita merayakan tahun baru masehi. Lantas bagaimana kita menyambut datangnya tahun baru hijriah yang notabene sebagai tahun kita sendiri, apakah kita melakukan hal sama ketika menyambut pergantian tahun hijriah?

Jawaban pertanyaan diatas tentu tidak sama. Dalam menyambut datangnya tahun baru 1 Muharram kita tidak banyak melakukan aktifitas sebagaimana yang dilakukan ketika menyambut datangnya tahun masehi. Pesta kembang api yang dibarengi tiupan terompet tidak terdengar ketika tahun baru Islam datang. Bahkan diantara kita ada yang beranggapan tahun baru Islam tidak berkesan, menarik dan lainnya. Tapi yang lebih menyakitkan adalah kita acuh tak acuh terhadap datangnya tahun baru Islam ini. Padahal kita adalah umat muslim yang seyogyanya dapat menyambut pergantian tahun ini dengan rasa gembira dan bersyukur.

Mungkin harus dapat dimaklumi kenapa kita tidak gembira dan antusias menyambut tahun baru hijriah ini, karena negera kita tidak menggunakan kalender hijriah, tapi menggunakan kalender masehi. Tanggal, bulan, dan tahun lahir, penentuan jadwal masuk kerja, dan lainnya semuanya menggunakan kalender masehi. Bahkan penentuan peringatan hari besar Islam, seperti bulan ramadhan, idul fitri dan idul adha dan sebagainya pun memakai kalender masehi. Meskipun Negara kita tidak menggunakan kalender hijriah dalam penentuan waktu, tapi selaku muslim kita patut memperhatikan kalender hijriah dalam keseharian. Sebab bagaimana pun hijriah adalah milik kita.

Sebagai seorang muslim hendaknya kita bahagia dengan datangnya 1 Muharram ini. Sebab Muharram merupakan bulan yang mempunyai beberapa pesan atau keutamaan didalamnya, seperti mengenang hijrah nabi Muhammad SAW. Selain itu Muharram disebut juga bulan haram dan bulan Allah. Ketika bulan Muharram tiba umat muslim disunnahkan berpuasa pada tanggal 10 Assyura.

Kita berharap semoga kalender hijriah tidak diabaikan hanya karena negera kita menggunakan kalender masehi. Sebab jika bukan kita yang menggunakannya, terus siapa yang akan memakainya? Selamat tahun baru Islam 1 Muharram 1429 H.

Minggu, 04 November 2007

SYARAT EVALUATOR DAN JENIS EVALUASI

SYARAT MENJADI EVALUATOR SEBAGAI BERIKUT:
1. Mampu melaksanakan, adalah bahwa mereka harus memiliki kemampuan untuk melaksanakan evaluasi yang didukung oleh teori dan keterampilan praktik.
2. Cermat, adalah mereka dapat melihat celah-celah dan detail dari program serta bagian program yang akan dievaluasi.
3. Objektif, adalah mereka tidak mudah dipengaruhi oleh keinginan pribadi, agar dapat mengumpulkan data sesuai dengan keadaannya, selanjutnya dapat mengambil kesimpulan sebagaimana diatur oleh ketentuan yang harus diikuti.
4. Sabar dan objektif, adalah agar di dalam melaksanakan tugas dimulai dari membuat rancangan kegiatan dalam bentuk menyusun proposal, menyusun instrument, mengumpulkan data, dan menyusun laporan, tidak gegabah dan tergesa-gesa.
5. Hati-hati dan bertanggung jawab, adalah melakukan pekerjaan evaluasi dengan penuh pertimbangan, namun apabila masih ada kekeliruan yang diperbuat, berani menanggung risiko atas segala kesalahannya.

Ada dua kemungkinan asal (dari mana) orang untuk dapat menjadi evaluator program ditinjau dari program yang akan dievaluasi. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Menentukan asal evaluator harus mempertimbangkan keterkaitan orang yang bersangkutan dengan program yang akan dievaluasi. Berdasarkan pertimbangan tersebut evaluator dapat dikalsifikasikan menjadi dua macam, yaitu evaluator dalam (internal evaluator) dan evaluasi luar (eksternal evaluator).
Internal Evaluator adalah petugas evaluasi program yang sekaligus merupakan salah seorang dari petugas atau anggota pelaksana program yang dievaluasi. Adapun kelebihan dan kekurangan dari internal evaluator yaitu:
Kelebihan:
Pertama, Evaluator memahami betul program yang dievaluasi sehingga kekhawatiran untuk tidak atau kurang tepatnya sasaran tidak perlu ada. Dengan kata lain evaluasi tepat pada sasaran. Kedua, Karena evaluator aalah orang dalam, pengambil keputusan tidak perlu banyak mengeluarkan dana untuk membayar petugas evaluasi.
Kekurangan:
Pertama, Adanya unsure sebjektifitas dari evaluator, sehingga berusaha menyampaikan aspek positif dari program yang dievaluasi dan menginginkan agar kebijakan tersebut dapat diimplementasikan dengan baik pula. Dengan kata lain, evaluator internal dapat dikhawatirkan akan bertindak subjektif. Kedua, Karena sudah memahami seluk beluk program, jika evaluator yang ditunjuk kurang sabar, kegiatan evaluasi akan dilaksanakan dengan tergesa-gesa sehinga kurang cermat.
Eksternal Evaluator adalah orang-orang yang tidak terkait dengan kebijakan dan implementasi program. Mereka berada di luar dan diminta oleh pengambil keputusan untuk mengevaluasi keberhasilan program atau berada di luar program dan dapat bertindak bebas sesuai dengan keinginan mereka sendiri, maka tim evaluator luar ini biasa dikenal dengan nama tim bebas atau independent team.
Kelebihan:
Pertama, Oleh karena tidak berkepentingan atas keberhasilan program maka evaluator luar dapat bertindak secara objektif selama melaksanakan evaluasi dan mengambil kesimpulan. Apa pun hasil evaluasi, tidak akan ada respons emosional dari evaluator karena tidak ada kepentingan untuk memperlihatkan bahwa program tersebut berhasil. Kesimpulan yang dibuat akan lebih sesuai dengan kenyataan dan keadaan. Kedua, Seorang ahli yang dibayar biasanya akan memprtahankan kredibibilitas kemampuannya. Dengan begitu, evaluator akan bekerja secara serius dan hati-hati.
Kekurangan:
Pertama, Evaluator luar adalah orang baru yang sebelumnya tidak mengenal kebijakan tentang program yang akan dievaluasi. Mereka berusaha mengenal dn mempelajari seluk-beluk program tersebut setelah mendapat permintaan untuk mengevaluasi. Kedua, Pemborosan, pengambil keputusan harus mengeluarkan dana yang cukup banyak untuk membayar evaluator bebas.
Untuk menghasilkan evaluasi yang baik, maka petugas evaluasi harus berasal dari dalam dan luar program, yaitu gabungan antara orang-orang di dalam program digabung dengan orang-orang dari luar. Sedangkan perbedaan menonjol antara evaluator luar dengan evaluator dalam adalah adanya salah satu langkah penting sebelum mereka mulai melaksanakan tugas. Oleh karena evaluator luar adalah pihak asing yang tidak-tahu menahu dan tidak berkepantingan dengan program, yang diasumsikan belum memahami seluk-beluk program maka terlebih dahulu tim tersebut perlu mempelajari program yang akan dievaluasi.